Kondisi udara di wilayah Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut), kian memburuk akibat imbas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Manado, penurunan mutu udara ini mulai terdeteksi sejak puncak periode kemarau berlangsung dari Agustus sampai ujung September 2026.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Manado, Leon Piri, menerangkan bahwa penurunan mutu udara dipicu oleh serbuan asap Karhutla serta lonjakan volume debu di tengah musim kering.
"Kami mendeteksi terjadi penurunan kualitas udara di Kota Manado yang disebabkan paparan asap Karhutla, serta meningkatnya intensitas debu sepanjang musim kemarau berlangsung," ujar Leon saat memberikan keterangan di Manado, Rabu (7/10/2026).
Leon memaparkan, maraknya peristiwa kebakaran lahan membuat selimut kabut asap di langit Manado kian tebal.
“Kejadian Karhutla, menyebabkan paparan asap di ruang udara Kota Manado semakin pekat,” tegas Leon.
Di samping asap kebakaran, kondisi atmosfer diperparah oleh kepulan debu akibat hembusan angin kencang di musim kemarau serta emisi buang kendaraan bermotor.
“Tentu kualitas udara akan menurun ketika ada kebakaran hutan dan lahan, ada partikel-partikel debu, polutan yang masih tertinggal di atas,” urai Leon.
Pihak DLH Manado sendiri terus mengawasi mutu udara secara berkala dengan menghimpun sampel pada beberapa area pengujian.
“Sampelnya kita ambil dari industri, perkantoran, transportasi, dan pemukiman. Di semester pertama, hasil pengukuran masih di bawah baku mutu,” tuturnya.
Leon turut mengungkapkan bahwa kebiasaan warga membakar sampah sembarangan serta membuka lahan pertanian lewat cara dibakar ikut memperparah polusi di Manado.
Kabut Asap Kiriman Lintas Wilayah
Partikel kabut asap yang menyelimuti Sulawesi Utara nyatanya juga bersumber dari daerah luar yang tengah diamuk Karhutla.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara, Muhammad Candra Buana, menjelaskan bahwa daerahnya memperoleh kiriman asap lintas batas atau transboundary haze dari titik api seperti Kalimantan dan kawasan Papua.
Candra menyebut pantauan dinamika atmosfer serta foto satelit penginderaan jauh menegaskan bahwa fenomena ini ialah kabut asap kiriman antarprovinsi.
Melalui kajian arah embusan angin dan pergerakan asap dari satelit cuaca, kepulan partikel halus terdorong dari lokasi Karhutla di Kalimantan, Papua Barat, hingga Papua Barat Daya.
Emisi asap kebakaran hutan tersebut terangkat pergerakan angin melalui lapisan udara menengah sampai tinggi mengarah langsung ke Sulawesi Utara.
Kendati demikian, titik-titik Karhutla lokal di Sulawesi Utara sendiri tetap berkontribusi mempertebal kabut asap yang merebak belakangan ini.
