Sejumlah peserta didik menggelar aksi turun ke jalan guna menyuarakan desakan pembenahan mutu pembelajaran serta penambahan alokasi dana pendidikan.
Aparat kepolisian antihuru-hara Prancis terlibat kericuhan fisik bersama massa pelajar saat aksi unjuk rasa berlangsung pada Kamis (1/10/2026). Kalangan murid melakukan protes demi menuntut penyempurnaan fasilitas sekolah serta penaikan anggaran sarana belajar.
Sebagaimana dilaporkan Reuters, unjuk rasa ini adalah bagian dari rangkaian gelombang demonstrasi siswa sejak pekan sebelumnya. Massa mengecam kerusakan pada banyak gedung sekolah, defisit fasilitas penunjang, hingga penerapan format ujian yang dinilai membebani mental pelajar.
Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray menyatakan pada Rabu (30/9/2026) bahwa puluhan korban menderita luka-luka selama aksi tersebut. Pihak otoritas kini berhadapan pada desakan besar untuk menuntaskan keresahan pelajar di tengah iklim finansial dan dinamika politik yang sensitif.
Para peserta protes pun mempersoalkan kepadatan ruang kelas yang melampaui kapasitas serta minimnya tenaga pendidik yang tersedia. Demonstran mendesak otoritas menyalurkan lebih banyak pembiayaan demi memulihkan infrastruktur sekolah sekaligus mengangkat mutu belajar-mengajar.
Aksi protes jalanan beserta penyegelan gedung sekolah kian membesar setelah berbarengan dengan aksi mogok para pekerja sektor publik pada Selasa (29/9/2026). Eskalasi gerakan terjadi persis sebelum rilis rencana anggaran belanja negara Prancis tahun 2027 diumumkan pada Kamis.
Otoritas berencana memangkas beberapa pengeluaran guna meredam defisit keuangan negara. Keputusan itu memicu kontroversi tajam lantaran para siswa justru meminta suntikan dana baru bagi pendidikan.
