Eskalasi pertempuran antara Rusia dan Ukraina kembali meletus tajam menyusul aksi militer Kyiv yang melepaskan lebih dari 1.000 unit pesawat nirawak ke teritori Rusia, termasuk kawasan St. Petersburg. Rentetan gempuran udara tersebut menyulut kebakaran hebat pada fasilitas depot bahan bakar minyak serta terminal ekspor migas.
Mengutip laporan Reuters, manuver ofensif berskala masif tersebut berlangsung berbarengan dengan memuncaknya friksi diplomatik antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy perihal kebijakan sanksi bagi Moskow serta peta jalan damai.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim armada tempurnya berhasil melumpuhkan sebanyak 1.015 drone Ukraina di 15 teritori Rusia, kawasan Krimea, dan Laut Hitam pada hari Minggu. Di lain pihak, Alexander Beglov selaku Gubernur St. Petersburg menuturkan insiden di wilayahnya merenggut satu korban jiwa serta mencederai lima orang lainnya. Pihak korporasi setempat turut memastikan bahwa pusat pergudangan milik raksasa e-commerce Ozon beserta fasilitas data center yang dikelola entitas teknologi VK tidak luput dari sasaran tembak.
Dinamika diplomasi kian meruncing seiring langkah Trump yang mempertahankan keputusannya membekukan sanksi baru terhadap pihak Kremlin. Dirinya berargumen enggan mengambil kebijakan yang berpotensi memutus peluang membawa Moskow menuju forum perundingan perdamaian.
"Saya bisa menandatanganinya nanti, atau kapan pun saya mau!" tegas Trump melalui unggahan di jejaring sosial. Ia pun melemparkan tuduhan bahwa Zelenskyy sejatinya enggan menghentikan peperangan lantaran militer Ukraina terus melancarkan sabotase terhadap sarana energi vital milik Rusia.
Sebaliknya, Zelenskyy memperingatkan bahwa relaksasi sanksi berisiko mendongkrak ketahanan militer Rusia untuk terus melancarkan invasi. Ketika diwawancarai oleh NBC, pemimpin Kyiv tersebut memperingatkan bahwa condongnya sikap Washington pada kubu Moskow bakal menjadi "kesalahan bersejarah". Ia kembali menegaskan posisi Rusia sebagai pihak agresor murni dalam invasi berdarah ini.
"Dia adalah seorang agresor. Dia menduduki wilayah kami. Dia membunuh orang dewasa dan anak-anak," lugas Zelenskyy menyasar Presiden Rusia Vladimir Putin.
Pada saat bersamaan, Kyiv mengklaim militer Moskow masih membombardir infrastruktur energi domestik kendati Trump sempat mendeklarasikan pakta "gencatan senjata energi" pada 11 Oktober lalu. Zelenskyy membeberkan bahwa fasilitas energi, minyak, dan gas Ukraina dihantam hingga 76 kali bombardemen dalam durasi tujuh hari pasca-pengumuman itu. Gempuran mutakhir di empat kawasan regional Ukraina memutus aliran listrik bagi puluhan ribu kepala keluarga.
"Amerika harus melihat bahwa Rusia tidak mengambil langkah timbal balik apa pun sebagai tanggapan atas pelonggaran sanksi atau kesepakatan yang ada," cetus Zelenskyy lewat akun X miliknya. Ia menuding Moskow mengeksploitasi celah diplomasi semata-mata untuk mengumpulkan keuntungan militer dalam memperpanjang invasi.
Imbas perang terbuka kini kian merembet keluar garis batas negara. Di wilayah Zaporizhzhia, Ukraina selatan, hantaman amunisi Rusia merenggut nyawa seorang wanita dan melukai sejumlah warga, termasuk seorang anak perempuan berusia enam tahun.
Sementara di gelanggang internasional, Kementerian Luar Negeri Ukraina melayangkan permohonan maaf resmi kepada Lithuania pasca-sebuah pesawat nirawak tersasar ke ruang udara Vilnius dan menghantam sebuah mobil yang melaju. Pihak otoritas Ukraina menduga alat tempur tersebut kehilangan kendali akibat paparan perang elektronik sistem pertahanan Rusia.
Di tengah ketegangan yang mendidih, Zelenskyy mengabarkan bahwa kanal pertukaran informasi intelijen antara pihak AS dan Ukraina kembali tersambung normal setelah sempat tersendat. Dirinya juga mengaku telah berkoordinasi secara langsung dengan dua utusan andalan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, guna membedah hasil pertemuan bilateral di Miami pada 9 Oktober dan menyusun langkah perundingan berikutnya. Kendati begitu, jurang pemisah mengenai penerapan sanksi ekonomi serta serangan atas fasilitas energi kian mempertegas bahwa rute perundingan damai masih membentur tembok terjal.








