Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan BUMN sektor konstruksi, PT Adhi Karya, menegaskan kesiapannya menyokong agenda pembangunan nasional yang kokoh dan bermutu pada era pemerintahan Presiden Prabowo, mencakup sektor ketahanan pangan, energi, sumber daya air, hilirisasi, industri, serta sarana transportasi.
Kini Adhi Karya mengelola lima proyek berskala terbesar, meliputi Tanggap Darurat di Aceh, Sumut, dan Sumbar, kawasan Tambak Udang Waingapu, Soda Ash PKT Paket C, fasilitas Sekolah Rakyat Tahap 3 Papua, dan Bandara Sentani. Di samping itu, korporasi juga memperkuat portofolio jalur kereta api lewat LRT Jabodebek, MRT Fase 2, serta North-South Commuter Railway (NCSR).
Demi menjaga stabilitas finansial dalam mengeksekusi beragam mandat konstruksi, Moeharmein Zein Chaniago selaku Direktur Utama Adhi Karya menegaskan konsolidasi efisiensi internal di seluruh lini operasional, mulai dari fase perancangan sampai pengerjaan teknis di lapangan guna mencapai operational excellence.
Perseroan turut memposisikan digitalisasi sebagai motor penggerak bisnis. Pendekatan ini menyatukan alur kerja, pengawasan proyek, pengadaan, pengendalian anggaran, hingga perumusan kebijakan berbasis data agar penyelesaian proyek berlangsung gesit, mendongkrak produktivitas, sekaligus memberikan nilai tambah tinggi.
Bagaimanakah langkah taktis pengembangan infrastruktur berkelanjutan berbasis prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance)? Simak pembahasan lengkapnya melalui dialog jurnalis Serliana Salsabila bersama Direktur Utama Adhi Karya, Moeharmein Zein Chaniago, pada program Closing Bell CNBC Indonesia (Selasa, 06/10/2026).
