Guna memperkuat ketahanan pangan serta menopang kesejahteraan para peternak rakyat, Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) menyelenggarakan Dialog Interaktif Daging Kambing dan Domba Nusantara. Acara ini berlangsung di Anjungan Kemenko Pangan pada ajang Trade Expo Indonesia (TEI) sebagai sarana penyebaran informasi dan edukasi terkait penguatan tata niaga komoditas tersebut.
Harimurti, Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Peternakan, menyampaikan bahwa peningkatan pasar daging domba serta kambing adalah langkah strategis. Pasalnya, mengacu pada data Kementerian Pertanian (Kementan), Indonesia kini telah berhasil mewujudkan swasembada untuk kedua jenis ternak potong tersebut.
Berdasarkan catatan Kementan, total kebutuhan nasional terhadap daging kambing dan domba telah sanggup dipasok sepenuhnya oleh peternak domestik. Porsi impor tercatat sangat minim, yakni di bawah 10 persen dari konsumsi nasional, yang mana impor tersebut hanya dikhususkan bagi produk dengan spesifikasi mutu tertentu saja.
Pencapaian swasembada ini diperkuat dengan besaran populasi ternak nasional yang menjanjikan, di mana jumlah kambing tercatat menembus lebih dari 15,4 juta ekor sementara populasi domba berkisar di angka 9,15 juta ekor. Data populasi ini membuktikan betapa krusialnya sumbangsih peternak rakyat dalam menjamin ketersediaan sumber protein hewani di tanah air.
Forum dialog tersebut menegaskan bahwa roda industri peternakan kambing dan domba bertumpu pada peternak rakyat sebagai poros utama. Selain mengakar kuat dalam tradisi keagamaan semisal kurban dan akikah, daging domba serta kambing telah menjadi bahan baku utama sektor kuliner, perhotelan, restoran, dan kafe (horeka).
Dipandu oleh Penelaah Teknis Kebijakan Ikka FM Kennedy di Anjungan Kemenko Pangan, sesi diskusi ini mengupas tuntas dinamika industri lokal, variasi hidangan Nusantara, hingga potensi penetrasi pasar, baik ranah domestik maupun mancanegara.
Ikka Kennedy menuturkan bahwa keberhasilan swasembada daging domba dan kambing semestinya menjadi modal berharga dalam memperkuat daya saing sekaligus meluaskan jangkauan perdagangan guna meningkatkan taraf hidup peternak.
"Keberhasilan memenuhi kebutuhan daging kambing dan domba dari produksi nasional menunjukkan bahwa peternak Indonesia memiliki kapasitas yang kuat untuk mendukung ketahanan pangan," tuturnya.
"Tantangan ke depan adalah bagaimana meningkatkan produktivitas, kualitas, dan nilai tambah agar komoditas ini semakin kompetitif dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi peternak," imbuh Ikka.
Pada segmen konsumsi rumah tangga, potensi penyerapan komoditas daging ini dinilai masih sangat besar. Pasalnya, ketersediaan daging kambing maupun domba di gerai ritel modern sebagai opsi sumber protein harian keluarga saat ini dirasa masih belum optimal.
Menyikapi hal tersebut, Kemenko Pangan bertekad memacu kerja sama terintegrasi yang melibatkan kementerian terkait, pemerintah daerah, asosiasi, pebisnis, perbankan, dan peternak demi mengefisienkan rantai distribusi, memperluas pendanaan, memodernisasi teknologi ternak, serta membuka saluran pasar yang lebih luas.
Melalui forum ini, publik diharapkan kian memahami kelebihan mutu daging domba dan kambing produksi lokal, sehingga menumbuhkan minat konsumsi dan memajukan produk ternak dalam negeri.
Sebagai ajang dagang global paling bergengsi di tanah air, Trade Expo Indonesia berfungsi menjadi jembatan pameran produk unggulan Indonesia menuju panggung ekspor.
Kehadiran Kemenko Pangan di perhelatan TEI ditujukan untuk menyosialisasikan kebijakan strategis sekaligus memamerkan rekam jejak keberhasilan sektor agribisnis dan peternakan, khususnya bagi komoditas yang telah berdikari secara mandiri.
