Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sedang merancang agenda pemberdayaan warga prasejahtera melalui sektor agrobisnis, mulai dari budidaya cabai, ubi kayu, hingga peternakan ayam.
Rencana strategis ini ditargetkan menyentuh sebanyak 88 kabupaten serta kota berstatus prioritas kemiskinan yang tersebar di pelosok Nusantara.
Cak Imin menerangkan pihak regulator bakal memetakan kawasan, komoditas unggulan, serta skema bisnis yang pas demi mengakselerasi penuntasan kemiskinan berbasis kemandirian ekonomi rakyat.
"Penanggulangan kemiskinan yang paling efektif dan tepat adalah melalui pemberdayaan," ucap Cak Imin seusai menghadiri rapat koordinasi bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta Selatan, Senin (19/10).
Berdasarkan penuturan Cak Imin, pendekatan kemandirian ini berniat mendongkrak derajat perekonomian warga miskin supaya kuota ketergantungan pada bantuan sosial (bansos) kian menyusut ke depan.
Penyusutan beban bantuan tunai tersebut diharapkan mampu membuka celah fiskal baru agar dana negara bisa dialihkan kembali menuju program-program kemandirian produktif.
Beberapa jenis hasil tani yang diulas mencakup komoditas cabai, singkong, tanaman kopi, serta budidaya unggas ayam. Pemangku kebijakan bakal menetapkan opsi terbaik menyesuaikan karakteristik geografis beserta potensi riil di wilayah kerja.
"Selain lokasinya yang miskin, kita juga komoditasnya, serta model-model pemberdayaan yang cepat. Misalnya peternakan, penanaman komoditas misalnya kopi, cabai, singkong, peternakan ayam," tutur dia.
Cak Imin menggarisbawahi ada 88 kabupaten/kota yang masuk kelompok perhatian utama pengentasan kemiskinan nasional. Aparatur negara akan menyeleksi wilayah berkategori paling krusial guna dijadikan proyek percontohan awal atau piloting, dengan tetap memperhatikan kesiapan pagu anggaran.
Menko PM membeberkan bahwa skema intervensi ini meliputi integrasi rantai pasok dari hulu sampai hilir, diawali pembukaan area tanam, fase produksi agrikultur, pengolahan pascapanen, teknik pembungkusan, hingga jalur niaga.
Pada sasaran cepat, otoritas menggenjot aktivitas bernilai perputaran kilat semacam peternakan hewan. Adapun pematangan lahan garapan diposisikan sebagai salah satu target jangka menengah.
"Jangka pendeknya, gimana peternakan cepat tumbuh di situ. Gimana produknya terserap, gimana kemasan dari produk singkong supaya bisa ke pasar, langsung," imbuh Cak Imin.
Melangkah ke horizon waktu panjang, pemerintah bertekad mendorong proses hilirisasi hasil tani dan manufaktur yang bertumpu pada kekayaan alam hayati. Cak Imin memberi gambaran hilirisasi buah kelapa jadi produk ekspor sebagai contoh sukses yang siap diterapkan meluas.
Dia menambahkan, realisasi agenda besar ini wajib melibatkan kerja sama antar-lembaga kementerian terkait. Mitra birokrasi pendukung bakal berkontribusi sesuai porsinya, dari ranah industrialisasi produk, tata kelola komunitas perdesaan, sampai regulasi pasar agar output masyarakat terdistribusi optimal.
Menyoal permodalan, Cak Imin menegaskan anggaran pokok tersebar pada tiap-tiap instansi pelaksana teknis. Pihak Kemenko PM bertindak menyatukan fokus supaya sebaran rupiah terkunci lurus ke sasaran.
"Kalau Menko kan cuma mengoordinir. Semua alokasi ada di kementerian-kementerian. Di antara alokasi anggaran di kementerian itu kita arrangement, kita perkuat, kita focusing, menjadi target utama," ujar Cak Imin.
