Jakarta, CNBC Indonesia – Menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang pada wilayah gambut di Kalimantan Selatan, sebuah tumbuhan alami lahan basah justru hadir menjadi tumpuan rezeki baru bagi warga pedesaan. Tumbuhan tersebut dikenal luas sebagai purun (Lepironia articulata).
Tanaman lahan basah ini sejatinya telah lama dimanfaatkan oleh penduduk setempat di Kalimantan Selatan sebagai material dasar kerajinan anyaman. Walau demikian, pemanfaatan purun selama bertahun-tahun umumnya hanya berkutat pada lingkup produk anyaman tradisional dengan nilai tambah minim serta jangkauan pasar yang amat sempit.
Kondisi ini berlangsung di tengah pentingnya menjaga stabilitas ekologi habitat tempat tanaman purun bertumbuh. Area gambut yang tetap basah dan terjaga kelembapannya terbukti memiliki kerentanan kebakaran yang jauh lebih kecil dibandingkan gambut yang mengering. Oleh sebab itu, warga yang bermukim di sekeliling kawasan tersebut membutuhkan keselarasan antara pemeliharaan alam dan keberadaan sumber pemasukan riil.
Menangkap potensi besar tersebut, siswi kelas 12 ACS Jakarta, Alexandra Christy Untono, mendirikan inisiatif wirausaha sosial bertajuk Gaia Weave. Langkah ini dijalankan dengan mentransformasi tanaman purun menjadi aneka barang fungsional bergaya modern, seperti tech organizer, pouch dokumen, tas kasual, hingga ragam aksesori penunjang gaya hidup perkotaan masa kini.
Menurut pandangan Alexandra, agenda konservasi alam semestinya melangkah seirama bersama perolehan faedah finansial bagi masyarakat setempat. Untuk mewujudkannya, Gaia Weave mengolah tumbuhan purun menjadi produk bernilai guna modern lewat perancangan desain matang, standarisasi kualitas ketat, serta fungsi pakai yang diselaraskan dengan kebutuhan pasar urban.
"Purun tumbuh subur di lingkungan yang basah dan engan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membangun insentif nyata agar masyarakat melihat nilai perlindungan dari ekosistem tempat tanaman ini tumbuh," tutur Alexandra dalam keterangan resmi, Jumat (2/10/2026).
Terobosan ini berhasil membukakan akses pasar berskala lebih luas untuk keahlian tangan lokal. Sampai hari ini, inisiatif Gaia Weave telah berhasil menggandeng sebanyak 126 perempuan perajin dari 15 desa di Kalimantan Selatan, dengan portofolio kreasi mencakup tas, wadah gawai, pernak-pernik aksesori, sampai pesanan merchandise korporasi.
Dampak nyata kemitraan sosial ini tampak sangat jelas pada tingkat pemasukan warga. Mayoritas perajin yang tergabung bersama Gaia Weave mencatatkan lonjakan penghasilan berkisar 100 sampai 150 persen, meningkat dari kisaran awal Rp1 juta-Rp1,5 juta menjadi rata-rata Rp2,7 juta hingga Rp3 juta tiap bulannya.
Manfaat langsung tersebut salah satunya dirasakan Ibu Idang, yang mulanya cuma bergantung pada kerja bertani musiman dengan upah harian sekitar Rp40.000 sampai Rp50.000. Saat ini, seusai merampungkan urusan di ladang, dirinya bisa menganyam purun di kediamannya dan mengantongi tambahan penghasilan sekitar Rp80.000 hingga Rp100.000 setiap hari.
"Setelah pulang dari sawah, saya lanjutkan menganyam di rumah. Keterampilan yang sudah kami miliki sekarang menjadi tambahan penghasilan nyata, dan anyaman kami digunakan oleh banyak orang," tutur Ibu Idang.
Bagi entitas Gaia Weave, penciptaan nilai ekonomi baru dari bahan purun adalah instrumen guna menumbuhkan stimulus bagi warga pedesaan agar tetap merawat keutuhan ekosistem lahan basah. Kerangka kerja semacam ini memposisikan purun bukan cuma sebatas komoditas mentah, melainkan jembatan pengikat antara perputaran ekonomi warga lokal dan perlindungan keanekaragaman hayati.
"Ekonomi sirkular bukan hanya tentang menggunakan material yang ramah lingkungan atau terurai alami. Fondasi terpentingnya adalah memastikan orang-orang di sepanjang rantai pasok, terutama para perajin di desa, mendapatkan manfaat ekonomi yang adil," tegas Alexandra.
Melalui pola kerja ini, Gaia Weave bertekad memperkuat skema bisnis di mana eskalasi nilai jual kerajinan senantiasa beriringan dengan perbaikan derajat kesejahteraan masyarakat yang mendiami sekeliling bentang lahan basah.
Rekam jejak kepemimpinan Alexandra pada bermacam agenda keberlanjutan sebelumnya, mulai dari penelitian pemetaan alga bersama Birufinery di kawasan Nusa Tenggara Timur hingga jaringan pengelolaan daur ulang EcoFunCycle, turut memperkaya strateginya dalam membesarkan Gaia Weave. Menjelang tahun 2030, Gaia Weave mematok target dapat merangkul lebih dari 1.000 perajin lokal di Kalimantan Selatan sembari memperluas distribusi ekspor serta kolaborasi dengan sektor industri perhotelan premium.
Entitas usaha ini turut merancang sistem ketertelusuran produk mengandalkan kode QR yang memfasilitasi para pembeli untuk memantau rekam jejak material beserta riwayat produksinya. Pada ujungnya, Gaia Weave berkeinginan menegaskan bahwa pemeliharaan lingkungan hidup dan peningkatan harkat hidup masyarakat mampu berjalan berdampingan. Sewaktu kepiawaian tradisional serta kekayaan lahan basah mendapatkan apresiasi pasar yang pantas, dampaknya langsung dinikmati warga sembari memastikan kelestarian alam tempat mereka bernaung.
