Lonjakan harga bahan bakar avtur kembali memaksa maskapai penerbangan di Amerika Serikat (AS) memangkas operasional rute berbiaya hemat yang dinilai minim profit. Perkembangan situasi ini diperkirakan bakal mempersempit opsi bagi kalangan penumpang pemburu tarif promo terjangkau.
Pimpinan dari United Airlines, American Airlines, serta Southwest Airlines mengungkapkan rencana mereka guna memangkas kuota angkut pada sisa bulan di penghujung tahun ini. Tom Doxey selaku CFO Southwest Airlines memandang penyesuaian tersebut merupakan langkah tepat bila tekanan lonjakan avtur tak kunjung reda.
"Jika harga bahan bakar tetap tinggi dalam waktu lama, menurut saya itu adalah respons yang wajar… untuk memangkas sebagian kapasitas tersebut," jelas Doxey dalam pertemuan bersama para penanam modal, sebagaimana dilansir CNN International, Jumat (19/9/2026).
Jalur penerbangan yang paling rentan dipangkas yaitu trayek dengan tingkat keterisian minim serta margin keuntungan teramat tipis. CFO United Airlines Michael Leskinen menegaskan bahwa ada berbagai rute berselisih untung minim yang seketika berubah merugi saat biaya avtur melonjak tajam.
Berdasarkan pandangan Zach Griff, jurnalis buletin aviasi From the Tray Table, rute-rute yang terancam dihapus biasanya adalah rute favorit turis berdana terbatas ketimbang pebisnis. Jadwal tersebut umumnya beroperasi pada hari sepi penumpang layaknya Selasa atau Sabtu, hingga keberangkatan malam hari atau dini hari.
Beban harga tiket kian memberat usai maskapai bertarif rendah Spirit Airlines berhenti beroperasi pada Mei dampak mahalnya avtur. Pada saat bersamaan, operator penerbangan murah semacam Frontier Airlines beralih menawarkan fasilitas kelas premium, membuat ketersediaan kursi murah kian menyusut tajam.
"Ini adalah situasi yang sangat menantang bagi pelanggan yang mencari tarif penerbangan murah," sebut Griff. "Tarif murah mulai menghilang, dan harga tiket pun terus meningkat."
Catatan dari Indeks Harga Konsumen memperlihatkan tarif tiket pesawat sepanjang Juni, Juli, serta Agustus melambung kurang lebih 25% dibandingkan periode tahun sebelumnya. Data Argus Research mencatat rerata avtur menyentuh angka US$4,56 atau setara Rp80.256 per galon, capaian termahal sejak awal Mei.
Secara total, empat maskapai raksasa AS yakni United, Delta, American, dan Southwest menanggung pembengkakan pengeluaran bahan bakar mendekati 80% sepanjang April hingga Juni jika dibandingkan catatan tahun lalu.
Kendati demikian, CEO Delta Ed Bastian mengingatkan penetapan tarif tiket tidak semata dipicu biaya avtur karena hukum pasokan serta permintaan tetap berlaku. "Permintaan yang ada sangat kuat," tegasnya.








