Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa kesenjangan sosial tetap menjadi tantangan besar bagi jajaran Pemprov DKI Jakarta. Walaupun persentase kemiskinan di kawasan metropolitan ini mencatatkan sejarah baru dengan turun menembus angka di bawah 4 persen, angka rasio gini Jakarta masih berada pada tingkat 0,435.
“Tetapi ada satu yang selalu menjadi beban bagi Jakarta, yaitu gini ratio. Sekarang ini gini ratio-nya 0,435. Gini ratio adalah perbandingan orang kaya dan miskin,” tutur Pramono pada gelaran Jakarta Contributors Award 2026, Kamis (15/10/2026).
Pramono memaparkan bahwa Jakarta berperan sebagai poros denyut perekonomian sekaligus episentrum peredaran aset finansial masyarakat luas. Kendati demikian, realitas perputaran modal raksasa itu belum menjamin pemerataan kemakmuran yang seimbang bagi segenap kalangan warga ibu kota.
“Singkatnya semua orang kaya pasti ada di Jakarta. Minimum rekeningnya ada di Jakarta. Tetapi ada kelompok yang termarginalkan, kelompok yang selama ini harus mendapatkan perhatian secara khusus oleh Pemerintah DKI Jakarta,” tegasnya.
Pramono memberikan perhatian mendalam pada warga yang masih terimpit keterbatasan di balik pesatnya kemajuan kota Jakarta. Ketimpangan nyata tersebut sangat kentara pada area permukiman padat, seperti yang berada di Kampung Bali serta Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Ia menuturkan potret memprihatinkan terkait keterbatasan fasilitas tempat tinggal warga. Menurut penuturannya, di Jakarta masih dijumpai bangunan berdimensi 3 x 4 meter yang dipadati oleh 15 sampai 16 jiwa. Situasi sempit tersebut memaksa para warganya menjadwalkan waktu secara bergantian sekadar untuk beristirahat tidur.
Pramono menerangkan problem kesenjangan sosial menempati satu dari lima isu menahun yang masih membelit Jakarta. Adapun empat problematika lainnya mencakup musibah banjir tahunan, arus deras urbanisasi, krisis perubahan iklim, serta kepadatan arus kemacetan lalu lintas perkotaan.
Guna memecahkan kompleksitas permasalahan ini, Pramono menggarisbawahi urgensi pembenahan intensif pada tiga ranah mendasar: sektor pendidikan, fasilitas kesehatan, serta penyaluran bantuan sosial kepada penerima manfaat.
“Maka untuk itu, ketika dari awal sejak saya dilantik, saya selalu mengatakan ada tiga hal yang harus menjadi perhatian khusus Balai Kota sekarang ini. Satu pendidikan, kedua kesehatan, yang ketiga adalah bantalan sosial,” pungkas Pramono.







