Jakarta, CNBC Indonesia – Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengkaji pengerahan peledak non-nuklir terkuat miliknya, GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB), guna menghantam wilayah Iran. Alutsista penghancur berjuluk “induk segala bom” tersebut telah dimasukkan ke dalam daftar opsi tindakan militer Gedung Putih.
Alternatif aksi ini dipersiapkan dalam cetak biru penyerangan terkini andaikan Presiden Donald Trump menginstruksikan peluncuran operasi militer susulan, sebagaimana diungkapkan laporan eksklusif CNN berdasarkan keterangan pejabat pemerintah AS.
Beberapa sumber anonim mengonfirmasi target penyerangan mencakup fasilitas sektor energi dan kompleks pengayaan nuklir Teheran, termasuk bunker bawah tanah yang berada di Gunung Pickaxe.
Seorang narasumber Gedung Putih menegaskan, “Presiden Trump tetap membuka semua opsi untuk memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.” Walau demikian, kepastian resmi terkait penggunaan MOAB belum ditetapkan secara final.
Kajian pemakaian peledak itu mencuat saat Trump menghadapi desakan politik domestik yang menuntut penghentian perang tidak populer. Mengingat dialog diplomatik belum menunjukkan titik temu jelas, angkatan bersenjata AS terus mematangkan aneka opsi. Di sisi lain, kalangan pejabat mempertanyakan peluang serangan lanjutan menghasilkan kemenangan strategis atau hanya memperpanjang eskalasi peperangan.
Tingkat kemanjuran MOAB dalam melumpuhkan instalasi nuklir Iran juga memicu keraguan teknis. Munisi berbobot sekitar 9.800 kilogram tersebut diciptakan memicu gelombang ledak kolosal di ruang terbuka, bukan dikhususkan untuk menembus bunker bawah tanah berlapis batu padas.
“MOAB adalah senjata yang lebih berfungsi sebagai sarana operasi informasi berskala masif,” jelas seorang narasumber yang memahami jalannya pertemuan rencana militer tersebut, dikutip Kamis (15/10/2026).
Kendati kemampuan penetrasinya atas target bawah tanah diragukan, pengerahan MOAB dinilai mampu memicu efek gentar psikologis sekaligus memperlihatkan dominasi militer Washington. CNN melaporkan bahwa bom masif ini dipandang sebagai aksi dramatis alternatif tanpa perlu menggelar serangan darat besar-besaran.
Trump sendiri terbelit dilema keputusan strategis. Di satu sisi ia ingin menyudahi peperangan, namun cemas pemulangan serdadu AS dicap publik sebagai tanda kegagalan. Staf Gedung Putih serta perencana strategi dikabarkan membedah opsi serangan berbobot simbolis tinggi bagi Trump, sembari mempertahankan celah diplomasi, khususnya misi pembukaan Selat Hormuz.
Dirancang pertama kali pada 2003, MOAB bekerja meledak di udara untuk mengempaskan daya kejut mematikan. Debut perdananya terjadi April 2017 menyasar terowongan militan ISIS di kawasan Afghanistan, menewaskan 36 kombatan dan meratakan gua perlindungan.
Aparat Pentagon menyebut Departemen Pertahanan senantiasa menyusun berbagai simulasi operasional sesuai mandat presiden dan menteri pertahanan, kendati Trump belum memberi perintah meluncurkan MOAB.







