Eksodus Modal Asing Berlanjut: IHSG Longsor dan Rupiah Tertekan Usulan MSCI

Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia – Arus modal investor asing berbondong-bondong ditarik keluar dari Indonesia saat sektor finansial domestik mengalami guncangan sentimen negatif pada penutupan pekan, Jumat (16/10/2026).

Mengacu pada catatan Bursa Efek Indonesia, aksi jual bersih pemodal internasional di pasar saham menembus angka Rp3,34 triliun hanya dalam sehari, Jumat (16/10/2026). Akibatnya, total dana asing yang keluar dari bursa domestik sepanjang tahun ini membengkak menjadi Rp88,19 triliun.

Hengkangnya likuiditas luar negeri tersebut langsung menghantam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga anjlok 11,57% ke level 5.199,96. Kejatuhan tajam ini menandai penurunan harian terparah dalam tempo 28 tahun terakhir atau semenjak badai krisis finansial 1998 silam. Tekanan hebat ini bahkan merembet hingga hari ini dengan posisi indeks terperosok ke 4.961,8.

Terpuruknya bursa saham domestik turut dibarengi dengan kelemahan kurs rupiah terhadap mata uang dolar AS yang kembali menyentuh level psikologis Rp18.000/US$.

Kepanikan pasar keuangan ini terutama dipicu oleh wacana dari MSCI yang bermaksud menurunkan peringkat klasifikasi pasar saham Indonesia dari kelompok pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).

Equity Analyst Mega Capital Sekuritas, Revo Gilang Firdaus memproyeksikan laju tekanan indeks masih akan berlanjut sepanjang pekan ini dengan dibayangi pelepasan portofolio asing secara masif.

"Dalam jangka pendek, IHSG berpotensi melanjutkan koreksinya setelah breakdown support dan mengalami trading halt di awal sesi hari ini dengan target koreksi 4,938-4,987," jelasnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Minggu (18/10/2026).

"Aksi jual asing berpotensi berlanjut dengan YTD: Rp84.85 triliun dengan net foreign sell intraday 16 Oktober 2026 sebesar Rp2.92 triliun," tambahnya.

Ia berpendapat, faktor pendorong pemulihan sentimen dapat dibuktikan melalui pembenahan tata kelola pasar yang konsisten dan terukur, khususnya terkait transparansi struktur kepemilikan, ketegasan penegakan hukum bursa, serta ketepatan porsi saham publik (free float).

"Ke depan, V-Shape recovery berpotensi terjadi akibat terbentuknya gap di area 5,804 setelah katalis pemulihan mulai direspon positif oleh pasar," tuturnya.

Pada kesempatan terpisah, riset Tim Ekonom Bank Danamon memaparkan ancaman potensi pelepasan saham oleh investor asing senilai US$2,9-5,8 miliar atau setara Rp52,35 triliun hingga Rp104,71 triliun (kurs: Rp18.000/US$) bila status pasar modal Indonesia benar-benar diturunkan ke standalone market. Adapun proyeksi titik tengah berada pada nilai US$4,3 miliar atau setara Rp77,63 triliun.

Perhitungan dari Bank Danamon ini disusun berdasarkan bobot saham Indonesia di dalam indeks acuan MSCI Emerging Market (per September 2026) sebesar 0,43% dari akumulasi seluruh dana kelolaan sebesar US$1,8 triliun yang mengekor indeks tersebut.

"Skenario dasar mengasumsikan bahwa dana pasif mencakup 40% dari eksposur tersebut dan akan keluar sepenuhnya jika penghapusan dari tolok ukur benar-benar terjadi, yang menghasilkan aksi jual sebesar US$3,1 miliar," papar laporan riset Indonesia Macro Glint Bank Danamon edisi 16 Oktober 2026, dikutip Senin (19/10/2026).

"Kami juga mengasumsikan bahwa investor aktif akan menjual 25% dari sisa 60% porsi mereka, yang menyumbang US$1,2 miliar, sehingga total potensi aksi jual mencapai US$4,3 miliar," tulis tim ekonom Bank Danamon.

Pada skenario moderat, Danamon memperkirakan kepemilikan dana pasif mencapai 30% serta penarikan dana aktif berkisar 10% dari sisa eksposur, yang memicu aksi jual sebesar US$2,9 miliar atau Rp52,35 triliun.

Sementara pada skenario terburuk (severe case), diasumsikan dana pasif mencapai 50% dan pelepasan dana aktif sebesar 50% dari sisa eksposur, yang berpotensi menghasilkan pelepasan aset hingga US$5,8 miliar atau Rp104,71 triliun.