Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia bersiap terlibat dalam penggarapan proyek bioetanol secara berjenjang selama kurun waktu tiga tahun mendatang demi memperkuat ketahanan sekaligus transisi energi di Tanah Air.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria menuturkan inisiatif strategis ini diarahkan demi merealisasikan target swasembada energi nasional, melanjutkan capaian penghentian impor bahan bakar solar lewat kebijakan mandatori B50.
Saat ini otoritas pemerintah tengah mengincar kesuksesan serupa pada sektor bensin dengan memanfaatkan bauran bahan bakar berbasis bioetanol secara bertingkat, yang diawali dari implementasi formulasi E20.
"Salah satunya tadi dalam rangka kita melakukan ketahanan energi, swasembada energi, khususnya untuk kan kita solar sudah selesai ya, dengan B50, sehingga kita sudah tidak lagi impor solar. Ke depan kita harapkan juga sama dengan bensin," papar Dony saat ditemui seusai agenda Executive Breakfast Meeting Dua Tahun Danantara di The Tribrata Darmawangsa, kawasan Jakarta Selatan, Jumat (2/10).
Dony turut memaparkan bahwa sejumlah negara di dunia bahkan sudah memanfaatkan bauran etanol berkadar tinggi mencapai level E50 untuk kebutuhan konsumsi bensin mereka.
Bagi Indonesia sendiri, penerapan bahan bakar hijau ini bakal diawali secara bertahap lewat skema kebijakan E20 guna memantapkan kedaulatan sektor energi nasional.
"Nah, bensin ini kan beberapa negara sudah bahkan sudah ada E50. Nah, kita juga dalam rangka untuk menjadikan negara kita berswasembada secara energi, kita juga mulai untuk memikirkan mulai dari E20 dulu nantinya," imbuhnya.
Pada aspek teknis operasional, pasokan utama produksi etanol memanfaatkan tetes tebu atau molase. Menyadari hal tersebut, pihak pemerintah ke depannya akan terus menggenjot perkebunan tebu skala luas guna menjamin ketersediaan bahan mentah bagi agenda transisi bahan bakar ramah lingkungan.
"Bahan baku etanol ini kan dari terutama sekali dari molase dari tebu. Nah, karena itu pemerintah ke depannya akan menggencarkan untuk proses penanaman tebu, ya, yang kita harapkan nanti akan menjadi bagian daripada transisi energi kita," terang Dony.
Tidak hanya itu, peran Danantara dalam rencana besar ini dipastikan tidak hanya berhenti pada penanaman komoditas tebu semata, melainkan juga meliputi pendirian pabrik pemrosesan secara komprehensif.
Dony memasang target agar seluruh tahapan penanaman modal terintegrasi tersebut bisa terselesaikan secara tuntas dalam tempo tiga tahun ke depan.
"Iya, termasuk membangun, menanam, kemudian membangun pabrik etanol juga. Kita harapkan nanti pemerintah kan berharap dalam tiga tahun ke depan sudah selesai seluruh investasi yang kita lakukan," pungkas Dony.








