Hilirisasi komoditas bauksit terbukti mampu melipatgandakan nilai tambah perekonomian nasional secara signifikan.
JAKARTA — PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mencatatkan penghematan cadangan devisa negara sebesar Rp 7 triliun sampai Rp 9 triliun tiap tahun usai memutus ketergantungan impor alumina guna mencukupi material utama pembuatan aluminium. Efisiensi besar ini tercipta berkat beroperasinya sarana pemurnian bauksit menjadi alumina di tanah air yang terintegrasi dalam agenda hilirisasi mineral Grup MIND ID.
Arif Haendra selaku Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum menjelaskan, suplai alumina lokal sukses memangkas ketergantungan perseroan terhadap material asal luar negeri. Saat ini, Inalum menyerap alumina langsung dari pabrik pengolahan yang dibangun terpadu di dalam ekosistem industri bauksit–alumina–aluminium domestik.
“Sekarang dengan memiliki sendiri alumina maka kita tidak perlu impor. Itu sudah menghemat devisa kurang lebih Rp7 triliun sampai Rp9 triliun gitu ya. Dengan Inalum sudah tidak mengimpor alumina,” ujar Arif saat agenda BIG Downstream Insight 2026, dikutip Selasa (13/10/2026).
Kestabilan suplai material tersebut ditopang langsung oleh kolaborasi proyek terpadu bauksit–alumina–aluminium antara Inalum dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) di Mempawah, Kalimantan Barat. Kawasan industri terintegrasi ini merangkum total enam agenda pembangunan, meliputi lima fasilitas milik Grup MIND ID serta satu infrastruktur kepunyaan Pelindo.
Di sektor hulu pertambangan, penyediaan material bijih bauksit diperoleh dari satu wilayah izin usaha pertambangan (IUP) kepunyaan ANTAM ditambah enam IUP milik entitas anak usaha ANTAM. Bahan mentah itu lantas diproses memakai pabrik Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) guna memproduksi alumina bagi kebutuhan sektor manufaktur aluminium.
Fasilitas SGAR tahap satu kini telah aktif beroperasi memproduksi alumina berkapasitas 1 juta ton setiap tahunnya. Dari total hasil pengolahan tersebut, sebanyak 550 ribu ton dialirkan untuk menyuplai Inalum lewat kontrak jangka panjang, sementara volume tersisa sekitar 450 ribu ton dipasarkan ke luar negeri.
Volume produksi sebesar itu sanggup menjamin kelancaran pemenuhan permintaan dalam negeri bersamaan dengan peluang ekspor menuju pasar global. Eksistensi smelter domestik ini pun kian mengokohkan keterpaduan antara penambangan bauksit dan pengolahan aluminium, sehingga material mineral mentah mampu diolah optimal secara mandiri di dalam negeri.
Ke depan, Inalum bersama ANTAM tengah mematangkan realisasi pembangunan SGAR tahap kedua demi memperkokoh rantai hilirisasi. Menurut Arif, penyusunan bankable feasibility study (BFS) atau kajian kelayakan proyek tersebut telah tuntas dikerjakan dan segera melangkah menuju fase final investment decision (FID).
Integrasi menyeluruh ekosistem bauksit–alumina–aluminium diharapkan sanggup mengokohkan ketahanan pasokan bahan mentah sekaligus mendongkrak keunggulan kompetitif sektor hilirisasi manufaktur nasional. Ketersediaan stok alumina dalam negeri juga berperan sebagai pondasi krusial bagi kemajuan berbagai lini hilir, meliputi rantai kendaraan listrik, sektor konstruksi, transportasi, serta industri ketenagalistrikan.


