Jakarta, CNBC Indonesia – Central Intelligence Agency (CIA) dikabarkan memberi sinyal bahaya terkait potensi Israel tergelincir ke jurang perang saudara maupun kehancuran politik akibat polarisasi internal yang kian parah. Ancaman tersebut mengemuka di tengah himpitan ekonomi, sosial, dan ketegangan politik imbas rentetan perang panjang di Gaza, Lebanon, serta Iran.
Mengutip laporan Middle East Monitor pada Rabu (7/10/2026), sepasang narasumber mengungkapkan kepada Drop Site News perihal telaah rahasia bertajuk "Fracture From Within" yang digarap Agustus lalu oleh tim Red Cell CIA. Divisi khusus ini bertanggung jawab menyusun telaah prediktif yang mendobrak kemapanan cara pandang sekaligus mendeteksi titik buta dalam jejaring intelijen AS.
Kajian tersebut memetakan berbagai pemicu turbulensi menjelang momentum pemilihan umum Israel pada 27 Oktober. Berbagai indikator krusial mencakup pelemahan ekonomi, lonjakan pengeluaran sektor pertahanan, kepulangan serdadu bersenjata dengan beban trauma psikis, hingga kecaman luas warga perihal pembebasan wajib militer untuk komunitas pria ultra-Ortodoks.
Selain itu, CIA mencermati eskalasi aksi kekerasan oleh pemukim Yahudi di wilayah pendudukan Tepi Barat. Manuver Perdana Menteri Benjamin Netanyahu demi mempertahankan jabatannya juga dinilai bisa memperdalam krisis ketatanegaraan di negara tersebut.
Berdasarkan keterangan narasumber, kajian Red Cell membatasi ruang lingkupnya hanya pada entitas Yahudi tanpa melibatkan warga Arab Israel yang membentuk sekitar 20% total populasi. Batasan populasi ini dipandang menjadi catatan tersendiri dalam jangkauan analisis dokumen tersebut.
Kerentanan itu kian memuncak lantaran bentrokan berkepanjangan terus mengikis ketahanan warga dan institusi negara. Perpaduan ongkos tempur, goncangan finansial, friksi aturan dinas militer, serta gesekan politik berpeluang memicu ledakan konflik domestik.
Pihak CIA menolak merilis pernyataan saat dimintai konfirmasi mengenai risalah ini. Meski begitu, dokumen "Fracture From Within" menegaskan bahwa sekutu utama Washington kini tengah dibayangi ancaman keruntuhan domestik yang nyata.







