Bumerang Agresi ke Iran: Pasar Saham Wall Street dan Asia Tertekan, Minyak Meroket

Posted on
banner 336x280

Penurunan tajam yang terjadi di bursa Amerika Serikat merembet langsung menekan laju pasar saham Asia.

WASHINGTON – Ambisi rezim Presiden AS Donald Trump guna melumpuhkan Republik Islam Iran melalui rangkaian agresi militer beserta sanksi finansial justru menghantam balik stabilitas ekonomi Negeri Paman Sam. Mayoritas lantai bursa Asia terpantau melemah pada perdagangan Selasa, mengekor kejatuhan indeks acuan di Wall Street, ketika imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS (Treasury) mulai mengerem reli kenaikannya usai mencetak rekor tertinggi sepanjang dua dekade terakhir.

Instrumen kontrak berjangka (futures) bursa AS terpantau bergerak turun tipis, berbanding terbalik dengan harga komoditas minyak mentah yang merangkak naik imbas ketidakpastian negosiasi AS-Iran serta tanda tanya seputar akses pembukaan Selat Hormuz, arteri laut krusial bagi logistik minyak global.

Sebagaimana diwartakan The Associated Press, pergerakan bursa AS pada Senin ditutup melemah di mana indeks acuan S&P 500 tergelincir 0,8 persen, Dow Jones Industrial Average terdepresiasi 0,7 persen, sementara Nasdaq Composite terkikis 0,9 persen.

Tekanan berat pada pasar modal terpicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi negara, lantaran para pelaku pasar memburu yield lebih tinggi di tengah kepanikan terhadap laju inflasi serta beban akumulasi utang nasional AS yang kian menumpuk.

Yield surat utang negara AS bertenor 10 tahun kini bertengger pada level tertingginya sejak 2007 silam. Angka imbal hasil tercatat bertengger pada kisaran 5,25 persen pada Selasa pagi, setelah sempat menyentuh posisi 5,27 persen pada hari Senin, berbanding level 5,17 persen pada perdagangan Jumat pekan sebelumnya.

Lonjakan harga komoditas minyak mentah—yang menjadi salah satu motor pengerek inflasi—kembali melesat naik pada Selasa pagi, tatkala juru runding internasional terus berupaya menjembatani kesepakatan damai antara kubu AS dan Teheran. Sepanjang akhir pekan, Donald Trump secara terbuka menolak tawaran Teheran perihal pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.

Harga minyak mentah acuan internasional Brent terangkat 1,8 persen ke level 99,63 dolar AS per barel; nilai tersebut melonjak sangat jauh dari posisi 72 dolar AS per barel pada penghujung Februari, periode sebelum agresi ilegal AS dan Israel menghantam Iran.

Di kawasan Asia, indeks Nikkei 225 Jepang anjlok 1,2 persen menuju posisi 65.114,64. Indeks Kospi Korea Selatan terpangkas 0,6 persen ke 6.847,56. Indeks Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,5 persen ke 24.516,46. Saham Shein di bursa Hong Kong ambles 11,7 persen pasca entitas fast-fashion daring itu merilis anjloknya laba bersih penyesuaian kuartal terakhir sampai 67 persen secara tahunan.

Sebaliknya, Shanghai Composite Index menguat tipis 0,1 persen menyentuh 3.826,51 didorong warta kantor berita Tiongkok, Xinhua, mengenai agenda Dewan Negara dalam mematangkan penguatan efektivitas kebijakan makro demi memacu pertumbuhan ekonomi.

Senjata Makan Tuan, Ekonomi AS Terpuruk Akibat Serang Iran

Sungai Kapuas Surut, Pertamina Optimalkan Fasilitas Penyangga Tayan Untuk Jaga Pasokan BBM di Sintan

Desa Patialo Kini Terang Benderang, PLN Hadirkan Listrik 24 Jam di Pelosok Mandailing Natal

Rupiah Kembali Tembus Rp 18 Ribu, Begini Penjelasan BI

Harga Emas Antam Turun Tajam, Ini Daftar Lengkapnya