Ajang TEI ikut memacu pertumbuhan ekspor, transisi energi hijau, serta ketahanan pangan di Indonesia.
JAKARTA — Perhelatan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 secara resmi mulai digelar pada Rabu (14/10/2026) di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, dan dijadwalkan bergulir sampai 18 Oktober 2026. Menempatkan Indonesia sebagai sentra sourcing dunia, TEI 2026 diikuti oleh 1.873 pelaku usaha dengan mematok sasaran transaksi menyentuh 17,5 miliar dolar AS.
Dalam seremoni pembukaan, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan TEI adalah sarana strategis guna memperlebar penetrasi pasar internasional, membangun relasi dagang, serta memikat investasi global. Kedatangan pembeli mancanegara dari 134 negara memperlihatkan minat global yang besar terhadap aneka produk unggulan tanah air, sekaligus mengukuhkan posisi TEI sebagai arena utama diplomasi ekonomi Indonesia di panggung dunia.
Amanat Presiden Prabowo Subianto dibacakan oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia. Otoritas menegaskan esensi aktivitas perniagaan lintas negara sebagai pemicu percepatan hilirisasi industri domestik, pembukaan lowongan kerja, penguatan stabilitas finansial nasional, hingga pemekaran perekonomian wilayah di seantero negeri.
Pameran dagang internasional ini juga berfungsi sebagai wadah promosi prioritas ketahanan energi maupun pasokan pangan nasional. Komoditas sektor perkebunan, utamanya kelapa sawit, mengemban tugas pokok mengingat produk derivatifnya menopang produksi bahan bakar biodiesel, menekan ketergantungan impor minyak solar, serta mengangkat perolehan devisa ekspor tanah air.
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bertindak sebagai rekan kolaborasi kunci pada agenda itu. BPDP menyalurkan dana pungutan ekspor komoditas sawit demi membiayai program Peremajaan Sawit Rakyat, ekspansi biodiesel, riset aplikatif dan inovasi, peningkatan kapasitas SDM, pembinaan UMKM, serta mendongkrak proses hilirisasi industri kelapa sawit dalam negeri.
Sektor perkebunan, lebih spesifik kelapa sawit, terbukti menjadi jembatan penting yang memadukan ekspor, sektor energi, dan kemakmuran petani rakyat. Capaian ekspor sawit menempatkannya selaku pemasok devisa andalan, di mana mayoritas portofolio dagang kini didominasi olahan hilir macam CPO pangan, produk oleokimia, dan biodiesel.
Pemajangan ragam produk olahan perkebunan dalam TEI membuktikan Indonesia berhasil beralih dari pengapalan material mentah ke produk bernilai jual tinggi.


