Bank sentral menegaskan komitmennya untuk konsisten mengintervensi pasar demi menjaga stabilitas mata uang Garuda.
JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mencatat depresiasi nilai tukar rupiah telah melampaui angka 7 persen sejak awal tahun hingga penutupan September 2026. Otoritas moneter tersebut menjamin langkah-langkah stabilisasi bakal terus digencarkan untuk membentengi ketahanan rupiah.
“Kalau dari sisi pelemahan nilai tukar, kita bergerak beriringan dengan peers kita. Memang kita secara year to date di posisi tanggal 29 September kita terdepresiasi 7,74 persen dibandingkan posisi kita akhir tahun,” ujar Erwin G Hutapea, Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, dalam agenda Taklimat Media di Kompleks BI, Jakarta, Rabu (30/9/2026).
Koreksi mata uang paling dalam dialami oleh Lira Turki dengan penurunan mencapai 14,08 persen (ytd). Sementara itu, depresiasi sejumlah valuta negara mitra terpantau relatif lebih rendah ketimbang rupiah. Misalnya, Rubel Rusia tergelincir 7,54 persen (ytd), Rupee India menyusut 6,88 persen (ytd), Baht Thailand melemah 6,70 persen (ytd), serta Peso Filipina yang tergerus 6,32 persen (ytd).
“Sedangkan, In terms of volatility, kita sebenarnya better off dibandingkan peers kita. Kita 7,3 persen (ytd) volatilitas kita dibandingkan dengan beberapa negara Korea itu 15,6 persen (ytd), Filipina itu 8,7 persen (ytd), kemudian even Malaysia itu 8,59 persen (ytd) volatilitasannya,” paparnya menambahkan.
Erwin menguraikan, dinamika kurs berkaitan erat dengan fundamental perekonomian domestik, terutama menyangkut kinerja transaksi berjalan. Catatan BI memperlihatkan defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II 2026 berada pada level 0,9 miliar dolar AS, menyusut tajam dari posisi defisit kuartal I 2026 yang menyentuh 9,1 miliar dolar AS.
Adapun transaksi berjalan membukukan lonjakan defisit lantaran pembengkakan defisit perdagangan migas diiringi penyusutan surplus nonmigas. Sebaliknya, pos transaksi modal dan finansial menorehkan surplus berkat mengalirnya investasi langsung maupun portofolio asing ke pasar domestik.
“Ada satu evidence yang secara fundamental dan secara teoritikal enggak bisa di-argue. Sebuah negara ketika transaksi berjalannya defisit, artinya kan kebutuhan valuta asingnya lebih gede daripada produksinya, sehingga memang pergerakan nilai tukarnya akan bergerak mengikuti situasi itu. Jadi, tugas kita adalah menjaga stabillitas,” jelas Erwin.
Guna memperbaiki performa neraca transaksi berjalan, BI terus memperkuat sinergi bersama kementerian serta lembaga terkait demi pemulihan struktural.
“Tentu saja Bank Indonesia juga mencoba mem-balancing ini dengan mendorong aliran masuk modal asing di capital account sebagai balancing-nya agar keseimbangan supply dan demand valuta asing itu tetap bisa terjaga dengan kebijakan-kebijakan yang kita lakukan,” imbuhnya.
Erwin menegaskan, fokus BI ialah menjaga kepastian kurs rupiah agar seluruh pelaku usaha dapat mengambil keputusan bisnis dengan percaya diri.








