Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyiapkan strategi matang guna memperkokoh kedaulatan energi domestik. Kebijakan strategis ini dijalankan lewat percepatan mandatori bauran biodiesel 50 persen (B50) berbahan sawit serta pendirian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dalam kapasitas masif.
Pernyataan tersebut diutarakan langsung oleh Prabowo kala berbincang bersama jajaran Jurnalis Senior serta Pakar di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (6/9/2026), yang ditayangkan CNBC Indonesia, Rabu (16/9/2026).
Akselerasi pemanfaatan energi ramah lingkungan ini sengaja dipacu beriringan dengan misi pemerintah menahan laju kekayaan bangsa supaya tidak bertubi-tubi mengalir ke luar negeri.
"Habis itu kita harus amankan BBM. Yang lumayan minimal sekarang, tidak separah banyak negara lain. Dan itu karena kita lakukan antisipasi dan sebagainya. Kita bikin B50 dari kelapa sawit, dan sebagainya, nanti ke tenaga surya, besar-besaran. Baru tentunya kita harus memperbaiki yang sekian puluh tahun aliran uang itu ke luar negeri, ini yang harus kita amankan," kata Prabowo, dikutip Kamis (17/9/2026).
Prabowo menggarisbawahi persoalan genting ekonomi Indonesia selama 34 tahun belakangan berakar dari kegagalan mempertahankan kekayaan nasional (national wealth) menetap di tanah air. Imbas fenomena kaburnya dana itu memicu penyusutan likuiditas pasar domestik yang amat nyata akibat derasnya modal berhamburan keluar.
"Masalah yang kita hadapi adalah, ya, national wealth kita tidak tinggal di Indonesia. Ya bagaimana Anda mau berharap likuiditas, orang uangnya dibawa keluar kok? Anda mengerti enggak? 34 years! Saya 2 tahun harus memperbaiki 34 years ini, 34 tahun ini. Tapi saya tidak takut, ya kita hadapi," tegasnya.
Bukan cuma mendongkrak mandatori B50 dan PLTS demi menyetop impor energi serta rembesan devisa, kepala negara juga memastikan penghematan belanja negara digencarkan lewat penutupan celah-celah pemborosan anggaran.
Semua pundi anggaran yang berhasil diselamatkan dari pengetatan efisiensi bakal diputar lagi untuk mendanai sektor riil bernilai tambah tinggi yang sanggup mencetak devisa berlimpah serta membuka lapangan kerja luas.
"Setelah ini tentunya kita efisiensi, menyelamatkan uang yang bocor-bocor. Kemudian kita investasi di hal-hal yang bisa tadi menghasilkan devisa, lapangan kerja," tandasnya.
