PT Pertamina (Persero) memberikan bantuan nyata dalam proses pemulihan kehidupan warga Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, usai musibah kebakaran melanda permukiman mereka pada Agustus lalu.
Peristiwa kebakaran tersebut memusnahkan rumah tinggal sekaligus sarana penting kegiatan kebudayaan serta ekonomi masyarakat, meliputi toko cenderamata, lumbung padi, hingga Bale Baleq. Akibat insiden ini, mata pencaharian penduduk setempat yang sangat bergantung pada keterampilan menenun, aktivitas berniaga cenderamata, dan pemanduan turis sempat terhenti.
Wujud dukungan tersebut direalisasikan lewat penyaluran 45 unit alat tenun lengkap beserta program pelatihan pendampingan. Bantuan itu diserahkan secara simbolis oleh Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan di area Festival Pertamina Mandalika International Circuit kepada masyarakat perajin tenun yang sarana kerja dan tempat usahanya musnah dilalap api.
Penyaluran bantuan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini sekaligus menjadi bukti keseriusan Pertamina merawat kekayaan tradisi tenun Sasak dan membangkitkan kembali sektor pariwisata budaya di Desa Adat Sade.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, mengutarakan bahwa bantuan perlengkapan kerja ini disiapkan agar warga dapat lekas produktif kembali serta memulihkan stabilitas ekonomi rumah tangga mereka.
"Melalui bantuan 45 alat tenun serta pendampingan pelatihan, kami berharap para perajin Desa Adat Sade dapat kembali bekerja dan menghasilkan karya. Tradisi tenun memiliki nilai penting bagi masyarakat, baik sebagai sumber penghidupan maupun sebagai warisan budaya yang perlu terus dijaga," ungkap Arya.
Kawasan Desa Adat Sade sendiri termasyhur sebagai pusat wisata budaya etnis Sasak di Pulau Lombok. Keberadaan kain tenun kreasi para penenun setempat menjadi simbol identitas adat sekaligus komoditas unggulan yang sangat diminati oleh para pelancong.
Pemberian perkakas tenun menjadi titik pijak penting untuk menggerakkan roda produksi warga. Di sisi lain, bimbingan pelatihan diberikan untuk mengasah kemampuan teknis sekaligus memperkuat kesiapan para pelaku usaha lokal dalam menata kembali mata pencaharian mereka.
Arya menyatakan pula bahwa keberadaan Pertamina di wilayah Mandalika membawa visi berkembang harmonis bersama masyarakat luas sekaligus mengalirkan kemajuan pariwisata bagi kesejahteraan penduduk setempat.
"Kami ingin masyarakat sekitar turut merasakan manfaat dari berkembangnya Mandalika. Melalui program TJSL, Pertamina mendukung penguatan potensi lokal agar warga memiliki kesempatan untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi. Dukungan bagi perajin Desa Sade juga menjadi upaya menjaga tradisi tenun agar terus diwariskan kepada generasi berikutnya," tuturnya.
Apresiasi mendalam disampaikan oleh Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Sade, Thalib, atas kontribusi Pertamina terhadap para pelaku tenun yang terdampak bencana.
"Setelah musibah, salah satu kebutuhan warga adalah peralatan untuk kembali bekerja. Kami berterima kasih atas bantuan Pertamina karena alat tenun ini membantu para perajin memulai kembali kegiatan mereka. Harapan kami, warga dapat kembali menghasilkan kain, memperoleh penghasilan, dan menyambut wisatawan dengan karya khas Desa Sade," ujar Thalib.
Berputarnya kembali aktivitas tenun diyakini sanggup memicu denyut perekonomian kawasan, mencakup siklus pembuatan lembaran kain sampai transaksi perdagangan dengan wisatawan. Pola ini membuat pemulihan mata pencaharian warga berjalan beriringan dengan revitalisasi wisata budaya Desa Adat Sade.
Melalui inisiatif TJSL, Pertamina konsisten mendorong pemberdayaan publik berlandaskan kearifan lokal. Langkah ini selaras dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama Pilar 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta Pilar 11 tentang Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan.
Langkah strategis ini pun berjalan selaras dengan spirit Asta Cita guna memperkokoh kewirausahaan, menyamaratakan ekonomi, serta mewujudkan kehidupan yang harmonis bersama alam dan budaya.
