Awal November, Kurs Rupiah Tertekan ke Level Rp18.155 per Dolar AS

Posted on

Kurs rupiah bertengger di posisi Rp18.155 per dolar AS pada sesi pembukaan transaksi hari Senin (2/11) pagi. Posisi mata uang nasional tersebut mencatatkan pelemahan sebesar 8 poin atau sekitar 0,04 persen bila dibandingkan dengan posisi penutupan sesi sebelumnya.

Tren pelemahan rupiah ini sejalan dengan kondisi sebagian besar mata uang di kawasan Asia yang kompak tertekan di hadapan dolar AS. Mata uang yuan China tercatat merosot 0,01 persen, peso Filipina terpangkas 0,02 persen, serta ringgit Malaysia turut mengalami depresiasi 0,20 persen.

Koreksi mata uang kawasan juga dialami oleh dolar Singapura yang tergelincir 0,07 persen terhadap greenback, yen Jepang terkikis 0,18 persen, won Korea Selatan anjlok 0,35 persen, dan dolar Hong Kong tertekan tipis sebesar 0,01 persen.

Sementara itu, laju mata uang utama negara-negara maju memperlihatkan pergerakan yang cenderung beragam. Euro terpantau menanjak 0,10 persen, dolar Australia menguat 0,01 persen, dolar Kanada terangkat 0,01 persen, dan franc Swiss turut bertambah 0,01 persen. Di sisi berlawanan, poundsterling Inggris justru menyusut 0,03 persen di hadapan dolar AS.

Pengamat pasar uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan rupiah bakal bergerak cukup mendatar pada awal perdagangan. Para pelaku pasar masih bersikap menunggu pengumuman beberapa rilis indikator finansial domestik nanti siang, seperti neraca perdagangan serta tingkat inflasi.

"Rupiah diperkirakan dibuka datar, dengan investor menantikan serentetan data ekonomi domestik siang ini, di antaranya inflasi dan perdagangan," beber Lukman saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (2/11).

Menurut penjelasannya, tren kemerosotan harga komoditas minyak mentah global karena adanya optimisme negosiasi damai perang Amerika Serikat dan Iran sesungguhnya bisa menjadi katalis positif bagi penguatan rupiah. Kendati demikian, iklim sentimen dalam negeri masih tergolong rentan lantaran derasnya aksi pelepasan portofolio saham oleh modal asing.

"Harga minyak mentah dunia yang turun seiring harapan perundingan damai untuk mengakhiri perang AS-Iran dapat mendukung rupiah. Namun, sentimen domestik umumnya masih lemah akibat aksi jual investor asing di pasar ekuitas," paparnya menambahkan.

Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan fluktuasi rupiah akan bergulir pada kisaran target level Rp18.100 sampai Rp18.200 per dolar AS.