Akselerasi Penerapan Perjanjian Dagang ICA-CEPA Jadi Fokus Utama Kemitraan Indonesia-Kanada

Posted on

Airlangga Hartarto selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menggelar dialog bilateral bersama The Honourable Maninder Sidhu, Menteri Perdagangan Internasional Kanada, di tengah rangkaian agenda Canada Investment Summit di Toronto, Kanada, pada Senin (14/09).

Pertemuan tingkat menteri tersebut dipandang sangat krusial mengingat relasi perniagaan kedua negara tengah beralih dari fase ratifikasi menuju tahap operasionalisasi Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) yang ditargetkan berlangsung pada pengujung tahun ini.

"Pertemuan hari ini menegaskan komitmen bersama Indonesia dan Kanada untuk memastikan ICA-CEPA benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha di kedua negara," kata Menko Airlangga.

Dari agenda tersebut, kedua delegasi bersepakat mengatasi beragam rintangan operasional ICA-CEPA, seperti harmonisasi standardisasi mutu, serta penerapan tata kelola ketenagakerjaan dan prinsip keberlanjutan.

Langkah lainnya mencakup peningkatan kemampuan sektor UMKM demi memaksimalkan terbukanya akses pasar baru, di samping pembenahan rantai logistik dan penyederhanaan prosedur dagang nasional agar daya saing tetap terjaga. Kedua pihak pun sepakat memastikan imbal hasil kesepakatan tersebar adil.

Pada forum tersebut, Menko Airlangga memaparkan kinerja perdagangan bilateral Indonesia dan Kanada yang terus melesat konsisten sejak 2021, mencatatkan laju kenaikan rerata tahunan di level 9,13 persen.

Pada Semester I tahun 2025, perolehan nilai perdagangan двуpihak menyentuh angka USD3,1 miliar, menunjukkan lonjakan sebesar 13 persen apabila dibandingkan catatan rentang waktu serupa di tahun lalu.

Kala resmi dijalankan, pakta kemitraan ekonomi ICA-CEPA bakal memangkas atau meniadakan bea masuk pada melampaui 90 persen pos tarif asal Indonesia oleh Kanada. Sebaliknya, Indonesia melakukan penurunan untuk nyaris 86 persen pos produk dari Kanada.

Mengiringi tahapan ini, nilai ekspor nasional ke pasar Kanada diperkirakan melonjak sampai USD11,8 miliar pada 2030, dibarengi potensi kolaborasi luas pada ragam ranah utama meliputi pemurnian mineral kritis, transisi energi hijau, agribisnis serta maritim berkelanjutan, sarana infrastruktur, serta sektor finansial dan industri digital.

Selain fungsi komersial, perjanjian kerja sama bilateral ini memegang signifikansi geopolitik untuk memperkokoh kedudukan Indonesia, menjembatani penetrasi pengaruh Kanada ke wilayah Indo-Pasifik, sekaligus membuka koridor interaksi perdagangan Kanada dengan negara anggota ASEAN.

Oleh sebab itu, Menko Airlangga menegaskan pentingnya pematangan implementasi ICA-CEPA sebagai prioritas bersama supaya faedahnya lekas dinikmati pebisnis kedua pihak.

ICA-CEPA merepresentasikan kerja sama dagang menyeluruh perdana bagi Indonesia dengan mitra asal benua Amerika Utara, yang disahkan pada September 2025.

Kemitraan bersejarah ini diyakini mengokohkan fondasi perekonomian serta memperlebar akses pasar, peluang arus modal, dan sinergi bersama kekuatan ekonomi di Amerika Utara.