Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan rencana pembangunan fasilitas crude storage atau penyimpanan minyak mentah di area Sumatra. Proyek ini ditargetkan sanggup mengamankan cadangan minyak nasional hingga durasi 60 hari.
Penyediaan infrastruktur tampungan tersebut merupakan strategi strategis pemerintah guna memperbesar volume cadangan sekaligus memperkuat fleksibilitas dalam pengelolaan suplai minyak bumi di Tanah Air.
Bahlil mengungkapkan, tangki penampung dirancang guna menampung pasokan minyak mentah impor agar kapasitas tampung domestik semakin mencukupi. "Kita akan membangun storage beberapa di wilayah Sumatra untuk ketika kita melakukan impor crude. Target kita bisa sampai dengan 60 hari," kata Bahlil, dikutip Rabu (4/11/2026).
Bahlil menerangkan bahwa kajian kelayakan proyek ini telah selesai dikerjakan. Selanjutnya, peninjauan lapangan dijadwalkan berjalan pada pengujung tahun dengan menimbang faktor teknis, aspek keselamatan, serta mitigasi bahaya bencana. Tahapan tersebut bertujuan menjamin pembangunan fasilitas energi tetap terencana dan menaati regulasi keamanan.
"Salah satu di antaranya adalah kita rancang jangan sampai kondisi di mana kita meletakkan storage itu punya peluang atau potensi besar untuk jadi bencana. Itu kan menyangkut keselamatan," tegas Bahlil.
Di samping membenahi sarana penampungan minyak, langkah diversifikasi pasokan energi nasional giat dipacu lewat pemanfaatan bioetanol. Pada pertemuan terkait, Presiden Prabowo sempat menanyakan kesiapan penerapan bioetanol E20. Merespons hal itu, Bahlil menegaskan rencana strategis sudah dipersiapkan secara berjenjang mulai E20 menuju E50.
Pengembangan bahan bakar nabati ini akan melibatkan sinergi antarkementerian, utamanya Kementerian ESDM bersama Kementerian Pertanian guna mengamankan ketersediaan suplai bahan baku di sektor hulu.
"E20 sampai dengan E50 dan kami sudah menyiapkan renstranya. Saya dengan Pak Mentan, karena hulunya itu adalah kolaborasi antara Pak Mentan dengan ESDM," imbuh Bahlil.
Bersamaan dengan rencana tersebut, pemerintah menegaskan mandatori biodiesel B50 tetap dijalankan. Agenda prioritas ini menjadi bagian ikhtiar memperluas serapan sumber energi lokal, menekan ketergantungan pasokan impor migas fosil, serta memaksimalkan nilai tambah komoditas alami negeri.
Lewat pengadaan crude storage, akselerasi bioetanol, serta keberlanjutan program biodiesel B50, percepatan transformasi sektor energi domestik terus digulirkan. Rangkaian kebijakan komprehensif ini diharapkan mendongkrak ketahanan pasokan, menaikkan efisiensi rantai distribusi, sekaligus mewujudkan kedaulatan energi Indonesia yang semakin kokoh, tangguh, dan kompetitif menghadapi tantangan global.







