Jakarta, CNBC Indonesia – Konflik kawasan Timur Tengah berimbas nyata pada industri manufaktur nasional, menurut Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Diana Dewi. Lonjakan harga material mentah serta hambatan logistik memicu pembengkakan ongkos operasional dan menggerus keuntungan. Kendati demikian, pebisnis enggan mengerek harga barang akibat lemahnya daya beli konsumen dan sengitnya rivalitas pasar.
Kondisi beban manufaktur yang melambung ditambah ketidakmampuan pasar menyerap kenaikan harga memaksa pelaku usaha membatasi ekspansi lewat penurunan volume produksi serta pengurangan karyawan. Menyikapi situasi tersebut, dunia usaha sangat berharap langkah pemerintah guna memacu daya beli publik agar serapan barang produksi tetap terjaga seiring penyesuaian nilai jual.
Di samping itu, kalangan industri mendesak uluran tangan pemerintah terhadap bidang usaha yang menyusut, terutama industri otomotif dan industri logam. Dukungan nyata dapat dihadirkan lewat regulasi stimulus sektoral berikut kelonggaran akses kredit perbankan guna menopang keberlanjutan ekspansi korporasi.
Ulasan komprehensif dapat disaksikan melalui perbincangan Andi Shalini bersama Diana Dewi, Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, di program Squawk Box, CNBC Indonesia (Rabu, 16/09/2026).








