Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI) mengabarkan bahwa korporasi logam mulia terkemuka asal Jepang, Tanaka Precious Metal, memiliki ketertarikan untuk menanamkan modalnya di tanah air.
Wakil Ketua APPI Arief Budiman menyampaikan wacana penanaman modal korporasi Negeri Matahari Terbit itu telah disampaikan kepada Menteri Perindustrian Sarmuji saat bertemu di gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Rabu (28/10).
"Kita mendatangkan investor, Tanaka Precious Metal. Mereka akan berinvestasi di Indonesia," kata Arief sesudah perjumpaan itu berlangsung.
Arief memaparkan bahwa Tanaka Precious Metal berencana memproses komoditas mentah menjadi barang bernilai industri, di antaranya potassium gold cyanide (PGC) serta kawat pengikat (bonding wire). Seluruh komoditas hilir tersebut bakal disalurkan guna memenuhi permintaan sektor otomotif maupun elektronik.
Ia menilai, pemrosesan logam mulia selama ini umumnya berjalan di Taiwan dan berbagai wilayah lain, padahal pasokan material dasarnya disuplai langsung dari sektor pertambangan Indonesia.
"Industri itu harus kita bawa di Indonesia, di mana apa yang dimiliki bangsa Indonesia ini dinikmati oleh rakyat Indonesia, yang selama ini tuh semuanya dinikmati oleh asing," tegas Arief.
Menteri Perindustrian Sarmuji dilaporkan memberikan respons baik terkait agenda hilirisasi tersebut serta meminta APPI berkoordinasi bersama direktorat teknis bersangkutan.
Menindaklanjuti arahan itu, pihak APPI memiliki agenda pertemuan lanjutan bersama Direktorat Industri Kimia Hulu Kemenperin pada 2 November mendatang.
Kendati demikian, Arief menyatakan total nilai penanaman modal belum ditetapkan. Pemodal Jepang itu masih menanti kejelasan regulasi pemenuhan pasokan bahan kimia yang termasuk daftar larangan dan pembatasan (lartas), terutama jenis potassium cyanide.
Maka dari itu, APPI berencana terus memperkuat koordinasi bersama Kementerian Perindustrian agar pihak calon pemodal semakin yakin menanamkan modalnya.







