Akses Jalan Buntul Gayo Terputus, Distribusi Panen Kopi Terhambat dan Direncanakan Pulih Awal 2027

Posted on
banner 336x280

Putusnya sarana transportasi di wilayah Buntul Gayo kini menjadi kendala besar dalam pengangkutan panen komoditas kopi setempat.

BENER MERIAH — Rusaknya prasarana jalan merombak total pola mobilitas masyarakat Kampung Buntul Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Rute transportasi yang umumnya mengantarkan warga ke wilayah Pondok Baru dan kawasan pusat pemerintahan kini tidak dapat dilewati secara normal. Situasi ini memaksa masyarakat mengambil jalan melingkar yang memakan waktu tambahan kira-kira dua jam lamanya.

banner 468x60

Permasalahan infrastruktur tersebut bukan sekadar mengganggu mobilitas perjalanan harian masyarakat. Bagi para penduduk yang menggantungkan perekonomian keluarga pada sektor perkebunan, ketersediaan jalan menjadi urat nadi pengiriman hasil bumi menuju pasar. Komoditas unggulan seperti tanaman kopi pun merasakan hambatan rantai pasok secara langsung.

“Proses penjualan hasil kebun menjadi sangat sulit lantaran jalanan telah terputus total begini dan mustahil dilewati kendaraan,” ungkap Habibulloh, aparatur Petuah atau Petue tingkat desa Buntul Gayo saat memberikan keterangan, Kamis (15/10/2026).

Habibulloh menerangkan bahwa penduduk setempat terpaksa mengandalkan jalan pintas alternatif guna mencapai Pondok Baru maupun jantung kota Bener Meriah. Jarak tempuh yang semakin jauh memicu lonjakan biaya angkut barang pertanian, sedangkan nilai beli kopi di tingkat ladang jauh lebih murah ketimbang harga di pasar sentral.

Berdasarkan keterangan masyarakat setempat, komoditas kopi pada area kebun hanya dihargai sekitar Rp 18.000 sampai Rp 19.000 per takaran lokal. Di sisi lain, harga di kawasan perdagangan Pondok Baru sanggup menyentuh kisaran Rp 23.000. Selisih angka ini dipicu tingginya beban ongkos logistik serta tahapan kirim akibat rusaknya konektivitas.

Keadaan tersebut menyebabkan agenda rehabilitasi ruas jalan beserta sarana jembatan dinilai sangat krusial oleh penduduk. Bukan hanya tanaman kopi, jalur yang layak sangat dibutuhkan untuk distribusi produk pertanian lain seperti cabai serta buah alpukat, disamping melancarkan akses pendidikan anak, fasilitas medis, dan kegiatan perekonomian.

Imbas bencana alam sejatinya telah dirasakan semenjak awal peristiwa melanda. Menurut Habibulloh, warga setempat bahkan sempat hidup terisolasi kira-kira satu setengah bulan penuh karena hancurnya infrastruktur serta padamnya aliran listrik. Sebagian penduduk mesti dievakuasi di gedung serbaguna selama dua puluh hari sebelum pulang ke rumah.

Kendati rutinitas harian warga mulai berangsur normal, kerusakan jalan utama tetap menghadirkan kesulitan mobilitas. Mereka sangat mendambakan sarana jembatan segera direnovasi supaya kendaraan angkutan dapat kembali melintas dengan lancar.

“Besar harapan kami dengan kedatangan para pihak terkait ini, pembangunan perbaikan jalan desa segera terealisasi,” tutur Habibulloh.

Pernyataan harapan tersebut diutarakan tatkala jajaran Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) bersama pemda meninjau akses lintas enam desa Buntul Gayo pada hari Kamis, sekaligus memetakan pemulihan fasilitas yang hancur dampak bencana hidrometeorologi.

Penyaluran Panen Kopi Terkendala, Perbaikan Jalur Buntul Gayo Ditargetkan Berjalan Awal 2027

Kisah Perjalanan Boy Thohir Membesarkan Korporasi Adaro dan Meraih Kesuksesan

Pemerintah Indonesia dan Rusia Menjajaki Kemitraan Bidang Penerbangan Serta Industri Perkapalan

Penilaian Analis Terkait Likuiditas Pasar Modal Nasional yang Mengungguli Skema Standalone

Mekanisme Penebusan Pupuk Bersubsidi Bagi Petani Lewat Koperasi Merah Putih Memakai KTP

banner 336x280