Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengamati pergerakan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai bergeser menjauh dari kawasan barat Pulau Jawa, termasuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, serta Bekasi (Jabodetabek), terhitung sejak Sabtu, 17 Oktober 2026.
Kendati demikian, residu partikel asap terpantau masih tersisa di sepanjang pesisir barat Banten pada elevasi antara 10.000 hingga 18.000 kaki atau setara 3 sampai 5,4 kilometer. Observasi berkala tersebut dicatat pada hari Sabtu (17/10/2026) tepat pukul 08.00, 10.00, dan 13.00 WIB.
"Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memantau perkembangan kualitas udara di lingkungan masing-masing," tutur Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, melalui pernyataan resminya, dikutip pada hari Minggu (18/10/2026).
Guswanto memaparkan bahwa pergeseran arah tiupan angin yang dibarengi penurunan kecepatan hembusan di ketinggian lapisan tersebut menjadi faktor pemicu kabut asap terdorong menjauh dari wilayah daratan Jawa.
Ia pun menegaskan bahwa penampakan asap pada citra satelit belum tentu mengindikasikan adanya lonjakan konsentrasi polusi di lapisan permukaan tanah, sehingga warga diimbau tidak perlu merasa panik berlebihan.
Kondisi Udara Ibu Kota Berstatus Tidak Sehat
Pada hari sebelumnya, pantauan citra satelit pada Jumat (16/10/2026) mendeteksi kabut karhutla sempat melintasi zona Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek. Namun, peristiwa tersebut dilaporkan berlangsung relatif singkat serta tidak memberikan efek langsung terhadap kualitas udara permukaan tanah.
"BMKG terus memantau dinamika atmosfer dan menyampaikan informasi terkini sebagai dasar bagi masyarakat untuk mengambil langkah antisipatif," jelas dirinya menambahkan penjelasan.
Walaupun gumpalan asap mulai meninggalkan area Jabodetabek, data pemantauan mutu udara mencatat kadar konsentrasi partikel halus PM2.5 di stasiun Kemayoran, Jakarta, masih berkisar pada angka 46,7 hingga 109,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Rentang nilai polutan ini tergolong ke dalam kategori sedang sampai dengan tidak sehat.
Di sisi lain, catatan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) rilis Kementerian Lingkungan Hidup memperlihatkan mutu atmosfer di kawasan Jakarta berada di rentang baik hingga tidak sehat, dengan PM2.5 sebagai acuan parameter kritis utama.
"ISPU di Marunda tercatat 49 (baik), Tanah Abang 60 (sedang), Kelapa Gading 103 (tidak sehat), Menteng 116 (tidak sehat), dan Kebun Jeruk 120 (tidak sehat)," papar Guswanto menguraikan data.
Ikuti terus berbagai ulasan terkini dan tepercaya melalui saluran Berita Liputan6







