Pemerintah Indonesia mematok target ambisius berupa capaian ekspor nikel senilai US$45 miliar pada 2026 mendatang. Angka ini memperlihatkan lonjakan luar biasa apabila dikomparasikan dengan perolehan US$3,3 miliar sebelum pemberlakuan larangan pengiriman bijih mentah dan program hilirisasi.
Target fantastis tersebut merupakan wujud nyata keberhasilan strategi penghentian ekspor bahan mentah yang dibarengi percepatan ekspansi fasilitas pemurnian domestik secara masif di berbagai wilayah Tanah Air.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menggarisbawahi bahwa langkah strategis ini tak sekadar melipatgandakan nilai jual kekayaan alam, melainkan turut memperkokoh kedaulatan perekonomian Indonesia. Hal tersebut disampaikannya secara resmi dalam pernyataan tertulis pada hari Kamis.
Berdasarkan catatan otoritas terkait, performa ekspor nikel membukukan akselerasi yang sangat tajam. Sepanjang rentang waktu 2017 hingga 2018 sebelum hilirisasi bergulir, nilai penjualannya tercatat hanya sekitar US$3,3 miliar. Nominal tersebut melesat drastis menyentuh US$34 miliar pada 2023, serta diestimasikan bakal menembus lebih dari US$40 miliar sepanjang 2025.
Bahlil menguraikan bahwa peralihan fokus ke hilirisasi dalam negeri ialah pilar penting dalam agenda transformasi struktural ekonomi nasional. Pengaruh positifnya meluas jauh melampaui pendirian fasilitas smelter semata, melainkan menjalar ke aneka sektor penunjang lainnya.
Implementasi kebijakan terbukti mengokohkan ekosistem manufaktur nasional, memperbesar keterlibatan pelaku usaha lokal, memacu penguasaan teknologi mutakhir, menyerap banyak tenaga kerja, sekaligus memperluas penetrasi pasar global terhadap berbagai komoditas bernilai tambah tinggi.
Di samping itu, pemerintah sudah merancang peta jalan jangka panjang sampai 2040 mendatang. Dokumen panduan strategis terpadu tersebut mematok target perolehan investasi kumulatif mencapai US$618 miliar pada bermacam sektor komoditas unggulan.
“Rencana induk hilirisasi kami menetapkan target investasi sebesar US$618 miliar pada tahun 2040,” tutur Bahlil menegaskan arah kebijakan tersebut.
Cakupan sektor dalam kerangka strategis komprehensif ini mencakup ranah mineral serta batu bara, sektor minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan kelautan, hingga bidang pertanian.
Bahlil menyimpulkan, keberhasilan sektor nikel menjadi cerminan nyata bahwa hilirisasi sanggup mengakselerasi laju ekonomi domestik, memantapkan posisi Indonesia pada rantai pasok global, sekaligus menjaga ketahanan ekonomi nasional secara berkesinambungan.





