Saat minat menjadi pastor kian merosot tajam di kawasan Eropa serta Amerika Utara, sebuah pulau di Indonesia justru muncul sebagai lumbung utama penyuplai calon imam Katolik dunia. Wilayah tersebut ialah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berada di tengah bangsa berpenduduk mayoritas Muslim terbesar sejagat.
Berdasarkan data laporan The Economist, pada 2024 tercatat kurang lebih 4.150 seminaris menjalani pendidikan di Indonesia, dengan konsentrasi terbesar berpusat di Ledalero. Angka ini amat kontras jika disandingkan dengan Irlandia yang tercatat cuma memiliki 104 orang seminaris.
Kondisi pergeseran geografis ini berlangsung di tengah jurang ketimpangan global. Populasi penganut Katolik dunia kini telah menembus 1,4 miliar jiwa, melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding posisi 1970. Kendati demikian, total rohaniwan imam cenderung stagnan pada kisaran 400.000 jiwa.
Sepanjang rentang lima dekade ke belakang, registrasi calon pastor di wilayah Benua Eropa dan Amerika Utara anjlok sangat dalam. Kemerosotan prestise panggilan imamat akibat rentetan skandal pelecehan anak serta meluasnya sekularisme menjadi pemicu utamanya. Sekarang, sekitar 60% calon imam berasal dari kawasan benua Afrika serta Asia, tempat iman Katolik masih bertumbuh subur dan status imam tetap dipandang terhormat.
Mendiang Paus Fransiskus, kurun waktu beberapa bulan menjelang wafatnya, sempat mengungkapkan bahwa antusiasme menuju panggilan imamat di berbagai belahan negara berada di ambang kepunahan. Beliau secara gamblang menyebut "sebuah pulau di Indonesia" sebagai secercah tumpuan harapan langka.
Pulau Flores bersama kantong-kantong komunitas Katolik setara kini berhasil mencetak pasokan imam melimpah guna memenuhi kebutuhan keuskupan setempat, sekaligus mengirimkan tenaga ke mancanegara, membentang dari Angola hingga Austria. Fenomena penugasan lintas benua ini kerap dilabeli gelar "misionaris terbalik".
Eksistensi mereka bahkan kian kentara di jajaran hierarki tertinggi gereja. Benua Asia tercatat menempatkan 36 kardinal, urutan terbanyak nomor dua tepat di bawah Eropa. Mengutip ulasan The Economist, peranan mereka berpotensi besar memberi warna signifikan pada diskursus internal gereja terkait hubungan lintas agama.
Perkembangan tersebut tak luput dari riak polemik. Pada Juli silam, Paus Leo menjatuhkan ekskomunikasi atas anggota faksi ultrakonservatif Society of St Pius X lantaran menahbiskan uskup tanpa restu resmi Vatikan. Kelompok penentang itu menuding gereja telah menyimpang jauh dari ortodoksi doktrin tradisional, terutama lewat dorongan dialog lintas iman.
Mengapa Flores Menjadi Pusat?
Dari total sekitar 2 juta jiwa populasi Flores, tercatat 85% memeluk Katolik dan lebih dari 10% beragama Islam. Hamparan wilayah pulau ini menaungi kurang lebih 2.700 bangunan gereja. Syiar Katolik mula-mula dibawa penjelajah Portugis ke Flores timur abad ke-16, kemudian diperkokoh kiprah ordo Societas Verbi Divini (SVD) yang hingga kini mengelola Ledalero.
Ajaran Katolik berakar kuat di Flores antara lain karena fleksibilitas para pewarta yang bersedia mengakomodasi ritual adat serta tradisi leluhur lokal. Kerukunan hidup antarwarga beda keyakinan pun terjalin harmonis melalui ikatan perkawinan silang, kekerabatan, dan payung falsafah Pancasila.
Dinamika ekonomi beserta mutu pendidikan turut menjadi faktor pendorong. Asrama seminari amat termasyhur karena mutunya, mengajarkan aneka bahasa asing seperti Latin, Arab, Jerman, dan Inggris. Tak sedikit orang tua mempercayakan putra mereka masuk seminari bukan semata-mata demi tahbisan imam, melainkan demi akses pendidikan bermutu. Salah seorang seminaris, Edy Soge (30), menuturkan bahwa kehidupan seminari seolah membuka gerbang kelas menengah di pulau yang sebagian warganya masih hidup serba berkekurangan.
Lembaga Ledalero, yang dirintis berdiri sejak 1937, beroperasi menyerupai universitas mini ketimbang biara pertapaan yang kaku. Ruang perdebatan dibuka bebas, bahkan mahasiswi awam perempuan turut berbaur mempelajari disiplin filsafat dan pendidikan agama.
Masa pembinaan para calon imam rata-rata menelan waktu delapan tahun penuh. Empat tahun perdana difokuskan pada ilmu filsafat dengan teologi mengambil sepertiga porsi. Tahap selanjutnya diisi masa pengabdian pastoral satu hingga dua tahun, sebelum menuntaskan dua tahun penutup teologi.
Namun, tidak semua anak didik menuntaskan panggilan imamat. Soge menceritakan bahwa dari 62 rekan satu angkatannya, sebanyak 48 orang telah mengundurkan diri maupun dikeluarkan, di mana sebagian beralasan ingin membangun hidup bersama pasangan. Konsekuensi kaul selibat menjadi rintangan terbesar yang paling banyak menggugurkan komitmen.
Pengajar Ledalero, Bastian Limahekin (51), melontarkan keraguan terkait ketahanan Flores sebagai pemasok abadi misionaris. Dalam pandangannya, kini terbuka jalan alternatif untuk meraih kesuksesan, seperti berkarier di ranah matematika maupun ekonomi, sementara gelombang sekularisme perlahan pasti merambah Flores.
Para imam muda pun dituntut siap mengarungi benturan kultur. Apabila di Flores mereka dijunjung tinggi laksana tokoh masyarakat terkemuka, di tanah Eropa mereka justru berpeluang menemui sikap abai masyarakat sampai penolakan dingin. Fransiskus Carli Kau (30), yang bersiap bertolak ke Irlandia, kini aktif mempelajari realitas budaya tujuan lewat YouTube dan bimbingan imam Indonesia terdahulu.
Pada Agustus lalu, bencana gempa bumi dahsyat mengguncang tanah Flores dan merenggut lebih dari 130 korban jiwa. Struktur atap gedung utama Ledalero ambruk tatkala Soge tengah bersiap mengikrarkan kaul kekal, memaksakan prosesi sakral tersebut dipindahkan ke bawah naungan tenda darurat.








