Bappenas Rilis Buku MotoGP Mandalika 2025 dan Rumuskan Desain Besar Industri Olahraga

Posted on
banner 336x280

Peluang besar sektor industri keolahragaan nasional dinilai belum sepenuhnya terkonversi secara maksimal menjadi nilai tambah ekonomi maupun lapangan kerja baru.

Kementerian PPN/Bappenas secara resmi meluncurkan Buku MotoGP Mandalika 2025: Akselerasi Ekonomi, Citra, dan Pariwisata sekaligus mengawali perumusan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional. Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengungkapkan, hasil riset dalam publikasi tersebut memproyeksikan perputaran ekonomi ajang balap Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 mampu menembus angka Rp 2,7 triliun hingga Rp 4,7 triliun.

banner 468x60

"Pembelajaran dari MotoGP Mandalika menunjukkan pentingnya pengembangan ekosistem industri olahraga yang terpadu," kata Rachmat saat meresmikan peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika dan Kick Off Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga di Gedung Bappenas, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).

Rachmat memaparkan bahwa temuan komprehensif tersebut dijadikan pijakan penting bagi perumusan kebijakan pariwisata olahraga (sport tourism) serta industri olahraga di tingkat nasional. Dirinya menegaskan bahwa telaah mendalam ini diarahkan untuk mempercepat pemanfaatan MotoGP Mandalika sebagai salah satu instrumen strategis dalam agenda pembangunan nasional masa depan.

"Potensi industri olahraga belum sepenuhnya terkonversi menjadi nilai tambah, investasi, dan lapangan kerja di dalam negeri. Ekosistemnya masih terfragmentasi, mulai dari data, produk, industri, dan sumber daya manusia hingga pemanfaatan infrastruktur olahraga," tutur Rachmat.

Dirinya menerangkan bahwa perkiraan dampak finansial tersebut mencakup kalkulasi dampak langsung, dampak tidak langsung, serta dampak turunan atau lanjutan (induced impact). Di samping itu, perhelatan MotoGP Mandalika turut membuka puluhan ribu kesempatan kerja baru selama periode persiapan sampai penyelenggaraan berlangsung, yang memberi berkah nyata bagi sektor pariwisata lokal, pelaku UMKM, bidang transportasi, industri perhotelan akomodasi, ekonomi kreatif, serta segenap masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB).

Mengenai aspek promosi dan publikasi, lanjut Rachmat, sorotan media internasional sukses mencatatkan angka advertising value equivalency (AVE) senilai 361,6 juta euro atau setara Rp 6,9 triliun, yang merefleksikan nilai eksposur citra positif Indonesia beserta kawasan Mandalika. Menurut Rachmat, pihak Kementerian PPN/Bappenas bersama ITDC juga menggelar survei langsung sepanjang gelaran MotoGP Mandalika 2025 dengan melibatkan lebih dari 1.800 responden.

Seluruh responden tersebut mencakup para penonton dalam negeri, pelancong internasional, para pelaku UMKM, tenaga kerja lapangan, hingga pihak mitra sponsor. "Skor pengalaman penonton (brand equity) mencapai 5,07 dari skala enam," jelas Rachmat.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa riset lapangan itu membuktikan tingginya animo para pelancong untuk kembali berwisata ke Tanah Air. Estimasi studi menunjukkan bahwa peningkatan sorotan terhadap Mandalika memiliki potensi mendongkrak arus kunjungan wisatawan berkisar 11 persen, dengan syarat ditopang oleh kampanye promosi destinasi yang terpadu dan terarah.

Rachmat kembali menegaskan bahwa evaluasi atas pelaksanaan MotoGP Mandalika berperan sebagai pijakan vital guna memperkokoh regulasi industri olahraga. Pada momentum kegiatan yang sama, Kementerian PPN/Bappenas secara resmi memulai perancangan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga Nasional. "Ini sebagai acuan bersama yang menetapkan arah, fokus, target, serta pembagian peran lintas sektor," tegas Rachmat.

Ia pun mendorong agar masterplan tersebut dapat berfungsi sebagai pedoman pembentukan ekosistem industri olahraga yang berkelanjutan, mempererat sinergi pusat dan daerah, mempertegas distribusi tanggung jawab antar-stakeholder, serta menyempurnakan sistem monitoring dan evaluasi. Rachmat menaruh harapan besar agar hasil kajian ini menjadi landasan strategis pengembangan sport tourism dan industri olahraga terpadu demi menopang realisasi target RPJMN 2025–2029.

"Pada akhirnya, yang ingin kita bangun bukan hanya semakin banyak event olahraga, tetapi ekosistem industri olahraga Indonesia yang semakin kuat, berdaya saing, dan mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian serta kesejahteraan masyarakat,” pungkas Rachmat.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menyampaikan bahwa pembenahan industri keolahragaan mesti diwujudkan sebagai gerakan kolektif. Ia memaparkan bahwa capaian prestasi atlet, kemajuan industri, dan agenda perhelatan skala global wajib saling menopang secara berkesinambungan.

"Kolaborasi lintas kementerian menjadi fondasi agar Indonesia semakin mampu menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga dunia yang profesional, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," sebut Erick.

Buku ini dirumuskan lewat kerja sama riset Kementerian PPN/Bappenas bersama PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) serta Mandalika Grand Prix Association (MGPA), entitas bagian Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney.

Penyusunan naskah kajian turut melibatkan kolaborasi aktif bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Sekretariat Negara, Badan Pusat Statistik (BPS), serta pihak Bank Indonesia.

BAIC Bawa Empat Model ke GIIAS Semarang 2026

Menuju HUT ke-70, Astra Perkuat Kapasitas UMKM di Era Digital

Bangkit Pascakebakaran, Bantuan PNM Bersama BRINS Nyalakan Harapan Warga Sade

Bappenas Luncurkan Buku MotoGP Mandalika, Ini Tujuannya

Wajib Halal 18 Oktober, Kadin Kembangkan Halal Trainer untuk Kesiapan UMKM

banner 336x280