Pengadilan Rakyat Wilayah 1 di Vietnam menggelar sidang perkara perdata terkait tuntutan ganti rugi non-kontrak dari pebisnis senior berusia 80 tahun, Tran Thi Toan. Tokoh konglomerat ini melayangkan gugatan terhadap Elegance Real Estate Investment Company sebagai investor proyek Ba Son Central Complex, serta menyeret pihak pengembang Masterise Real Estate Development menyusul kehancuran struktural signifikan pada aset properti mewahnya.
Dilansir dari laporan media Vn Express pada Jumat (02/10/2026), Toan merupakan pimpinan dan perintis Toan Thang Co. Ltd., korporasi besar pengelola tambang batu putih serta jaringan hotel prestisius. Namanya sempat menuai sorotan luas pada tahun 2017 silam kala membeli langsung enam unit vila berdampingan di kompleks perumahan elite Vinhomes Golden River Ba Son, yang taksiran nilainya sekarang menembus triliunan dong atau berkisar US$ 38,5 juta (sekitar Rp 685,3 miliar).
Permasalahan bermula sewaktu Elegance merintis pengerjaan menara pencakar langit Ba Son Central Complex pada tahun 2020 persis di sebelah kompleks hunian mewahnya. Proyek gedung tersebut dituding mengakibatkan deretan vilanya merekah dan amblas ke bawah tanah. Dampak kerusakan ini membuat Toan tidak mampu menjalankan komitmen sewa yang terlanjur diteken, sehingga empat unit vila miliknya telantar tanpa penghuni. Taipan wanita ini menuntut kompensasi senilai US$ 150.000 (Rp 2,67 miliar) guna mendanai pemugaran fisik dan US$ 1,58 juta (Rp 28,12 miliar) untuk menutupi lenyapnya potensi pemasukan sewa.
Merespons tudingan itu, juru bicara Elegance membantah seluruh pokok klaim dengan menegaskan tidak memiliki perikatan hukum apa pun bersama Toan. Korporasi tersebut berdalih kerusakan timbul akibat keadaan alam mengingat tanah dasarnya berlumpur lunak, sekaligus mendesak majelis hakim mengabaikan data bukti pemasukan sewa yang dinilai cacat prosedur. Di samping itu, Masterise selaku pihak tergugat kedua menyatakan tidak terlibat sama sekali atas penurunan konstruksi bangunan dan memohon agar dibebaskan dari rentetan persidangan.
Toan sempat menyangkal laporan inspeksi firma Saigon Construction Inspection JSC yang menyimpulkan musabab keruntuhan properti, serta meminta persidangan ditunda demi menyerahkan kajian ahli independen. Meski demikian, majelis hakim menetapkan putusan yang mengabulkan sebagian tuntutannya dengan membebankan Elegance biaya reparasi bangunan sebesar US$ 65.384 (Rp 1,16 miliar).
Hasil survei awal pra-konstruksi mengungkap bahwa vila-vila tersebut sebetulnya sudah mengalami cacat dini berupa retak rambut di pagar pembatas serta amblas minor akibat kondisi tanah yang labil. Namun, hakim memaparkan aktivitas ekstraksi air tanah dan operasional alat berat proyek Ba Son Central Complex terbukti memperparah amblesnya permukaan. Kerusakan pada unit 16 dan 17 diidentifikasi murni akibat imbas proyek gedung sebelah, sedangkan keretakan pada vila nomor 14, 15, 18, dan 19 murni dipicu degradasi alami.
Pengadilan melepaskan Masterise dari tuntutan hukum karena sebatas pengembang pelaksana. Kontraktor konstruksi sejatinya dapat dimintai pertanggungjawaban bersama Elegance, tetapi Toan belum memasukkan mereka dalam berkas perkara sehingga pengadilan membuka peluang gugatan perdata terpisah. Majelis menolak mentah-mentah tuntutan ganti rugi sewa senilai US$ 1,58 juta (Rp 28,12 miliar) lantaran penggugat tidak mampu membuktikan korelasi langsung antara kerusakan fisik dan pemutusan sewa secara nyata.






