SDN 14 Dangin Puri Denpasar berupaya menumbuhkan kemandirian serta rasa tanggung jawab murid-muridnya melalui pelaksanaan uji coba Makan Bergizi Gratis (MBG) berbasis konsep prasmanan. Berikut ulasan mengenai berbagai dinamika, tantangan, dan keseruan selama kegiatan berlangsung di lingkungan sekolah dasar tersebut.
DENPASAR – Sekolah Dasar Negeri (SDN) 14 Dangin Puri yang berlokasi di kawasan Denpasar, Bali, menyelenggarakan uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) memakai mekanisme prasmanan. Inisiatif percontohan tersebut sengaja dijalankan guna membangun karakter mandiri sekaligus menanamkan kesadaran bertanggung jawab pada diri anak didik sedari umur dini.
Kepala SDN 14 Dangin Puri, Ni Luh Sriwati, memaparkan jika konsep swalayan ini mendidik setiap peserta didik agar mandiri serta bertanggung jawab dengan cara saling melayani satu sama lain saat proses pengambilan hidangan santap siang. Agenda uji coba berformat prasmanan tersebut secara resmi diawali semenjak Senin, 5 Oktober 2026, dengan alokasi target durasi uji coba selama sepuluh hari kerja.
Aktivitas percontohan ini adalah bagian dari rangkaian program percontohan MBG wilayah Bali yang diselenggarakan secara resmi oleh pihak Polda Bali, yang mana operasional dapur sentralnya berada di Jalan Plawa, Denpasar. Dari keseluruhan total 205 pelajar yang tercatat sebagai penerima manfaat, uji coba sistem prasmanan ini difokuskan kepada 63 peserta didik yang duduk di bangku kelas 5 dan kelas 6.
Siswa Bergiliran Mengambil Peran Melayani
Ni Luh Sriwati menerangkan lebih lanjut bahwasanya pihak lembaga pendidikan membuat jadwal giliran bagi para siswa di tingkatan kelas tinggi untuk bertugas melayani piring makan teman-teman mereka. “Untuk sementara ini karena anak kelas tinggi di kelas 5 dan kelas 6, kita gilirkan karena petugasnya kan lima orang biar tidak anak itu saja, bergilir dari siswa untuk siswa,” tuturnya saat memberikan keterangan di Denpasar, Selasa.
Sistem ini menuntut peran aktif langsung dari para murid yang mendapat amanah membagikan lauk pauk serta menu santapan kepada kawan sebaya mereka lewat pergiliran tiap harinya. Kendati diyakini memberikan dampak positif yang luar biasa bagi proses pembentukan karakter anak, pengaplikasian format prasmanan nyatanya menghadirkan kendala tersendiri, utamanya mengenai ketersediaan waktu istirahat belajar yang terpangkas menjadi kian sempit.
“Sejauh ini kondusif, cuma di sini memerlukan waktu lebih lama, 30 menit dari MBG yang sebelumnya karena anak yang lain selain kelas 5-6 langsung pakai ompreng,” kata Sriwati menerangkan situasi di lapangan. Waktu pelaksanaan yang lebih panjang membuat durasi istirahat siswa sangat terbatas karena jam pelajaran berikutnya harus segera dimulai pukul 10.00 Wita. “Iya, ngepas, kadang-kadang anak-anak ya tidak bisa istirahat, kurang jam istirahat jadinya karena waktu belajarnya sudah mulai jam 10,” imbuhnya.
Sajian Makanan Terasa Lebih Segar dan Antusiasme Pelajar
Di samping persoalan keterbatasan jam istirahat yang dihadapi pihak sekolah, dari sudut pandang mutu makanan, hidangan dengan sistem swalayan prasmanan ini dinilai terasa jauh lebih segar jika dibandingkan dengan pemakaian kotak ompreng langsung dari unit dapur. Keunggulan tersebut diakui secara langsung oleh Made Bagus Canendra Widi Putra, seorang murid kelas 5 yang ikut bertugas menyajikan makanan kepada rekan-rekannya.
“Kalau mendapatkan MBG prasmanan itu rasanya lebih enak dibanding MBG yang langsung di ompreng karena masih baru matang banget gitu,” ucap Made Bagus mengungkapkan perasaannya. Sebagai perwakilan siswa yang telah mencoba bertugas, ia mengakui adanya kendala teknis ringan saat pertama kali memegang peralatan saji. “Kalau menurut saya sih gampang, tapi karena belum terbiasa bagian mencapit-capit itu jadinya agak jatuh-jatuh sering,” jelas siswa sekolah dasar tersebut.
Kendati sempat menjatuhkan beberapa potong lauk, pengalaman perdana membagikan porsi makan kepada teman sekelas memberikan kesan mendalam sehingga dirinya sangat bersemangat bila diminta bertugas kembali pada kesempatan berikutnya. “Iya pertama, tapi mau lagi jadi petugas,” ucapnya dengan nada riang. Murid-murid pun sangat berharap kegiatan MBG prasmanan ini terus berlanjut ke depannya berkat aneka hidangan yang terus berganti lezat.





