Aspek keberlanjutan saat ini kian melekat erat serta menjadi pilar utama dalam perumusan strategi investasi para pemilik aset global.
Laporan riset mutakhir dari penyedia indeks pasar finansial sekaligus tolak ukur investasi dunia, FTSE Russell, memaparkan bahwa unsur keberlanjutan makin menyatu dalam alur penetapan langkah investasi pengelola modal di kancah internasional. Riset tahunan edisi kesembilan mengenai praktik investasi berkelanjutan ini berhasil menjaring opini dari 402 pemilik aset yang tersebar di 24 negara.
Berdasarkan temuan riset tersebut, tercatat 84 persen partisipan telah memasukkan parameter keberlanjutan ke dalam kerangka portofolio mereka. Proporsi ini melonjak cukup signifikan bila disandingkan dengan capaian periode sebelumnya yang bertengger di level 73 persen. Sementara itu, terdapat 15 persen pemilik dana lainnya yang kini sedang mengkaji implementasi skema penanaman modal berorientasi masa depan tersebut.
Situasi ini memperlihatkan hampir segenap responden riset telah memperhitungkan variabel kelestarian dalam penempatan dana atau tengah bersiap untuk mengeksekusinya. Tingkat adopsi prinsip ini terpantau berjalan cukup seimbang di beragam belahan bumi.
Secara rinci, sebanyak 85 persen institusi di kawasan Amerika Utara, 83 persen di kawasan Eropa, Timur Tengah beserta Afrika, serta 84 persen di wilayah Asia Pasifik mengonfirmasi telah mengaplikasikan prinsip keberlanjutan pada porsi portofolio aset yang kian meluas. Para investor institusi tersebut kini turut memperkuat kewaspadaan terhadap potensi risiko maupun prospek finansial jangka panjang.
FTSE Russell menilai, tingginya atensi investor terhadap nilai keberlanjutan mencerminkan parameter lingkungan, sosial, serta tata kelola (ESG) yang semakin terpadu dalam arah investasi. Poin-poin tersebut kini bukan sekadar pemanis citra korporasi atau pertimbangan pelengkap belaka, melainkan telah menjadi instrumen esensial dalam menakar prospek, mitigasi bahaya, serta peluang keuntungan jangka panjang.
“Para pengelola modal terus menanamkan prinsip keberlanjutan secara lebih komprehensif ke dalam keputusan alokasi dana, kendati dinamika pasar bergejolak dan arah kebijakan diwarnai ketidakpastian,” jelas Kepala Global Sustainable FTSE Russell Stephanie Maier sebagaimana dihimpun dari Sustainability Online, Senin (28/9/2026).
Maier menguraikan bahwa isu keberlanjutan kini tidak lagi diperlakukan sebatas aksi tanggung jawab sosial korporasi (CSR) semata. Para pelaku pasar modal mulai menginsafi bahwa dinamika krisis iklim, integritas tata kelola internal, hingga dampak kemasyarakatan dapat berpengaruh langsung pada tingkat imbal hasil (return) maupun eksposur risiko (risk) kepemilikan aset mereka.
“Keberlanjutan kian bertransformasi menjadi bagian inti dari kebiasaan investasi – instrumen harian dalam perancangan portofolio serta tata kelola risiko,” imbuhnya.
Kajian berkala ini pun mencatat pergeseran fokus terkait kategori risiko keberlanjutan yang diprioritaskan para pemodal. Ancaman fisik dari krisis iklim kian diperhitungkan secara saksama. Sekitar 26 persen partisipan menempatkan ancaman fisik iklim sebagai fokus utama mereka, melesat dibanding torehan 19 persen pada 2025.
Selain itu, kekhawatiran yang berhubungan dengan kepatuhan tata kelola, transparansi perpajakan, serta proteksi hak pemegang saham turut meningkat drastis. Sebanyak 32 persen responden memandangnya sebagai agenda penting, naik tajam dari angka 18 persen pada periode tahun lampau.


