Aliran Kali Angke tempo dulu dikisahkan sempat memerah pekat akibat tumpukan jenazah para korban kekerasan massal. Peristiwa mencekam tersebut bertalian erat dengan pembersihan etnis Tionghoa oleh kongsi dagang VOC di Batavia sekitar Oktober 1740. Lembaran kelam kemanusiaan ini merenggut belasan ribu nyawa serta populer dijuluki Geger Pecinan.
Akar mala petaka berdarah itu bermula dari ledakan demografi kelompok Tionghoa di Batavia saat roda perekonomian sedang terpuruk. Lewat karyanya, Tionghoa dalam Pusaran Politik (2008), Benny G. Setiono menaksir total populasi etnis tersebut kala itu berkisar antara 4.000 jiwa sampai belasan ribu jiwa.
Merujuk situasi pelik ini, Gubernur Jenderal VOC Adriaan Valckenier mengeluarkan langkah penertiban demografi, salah satunya mendeportasi warga Tionghoa menuju daerah lain seperti Sri Lanka. Kebijakan tersebut justru memicu kepanikan masif lantaran tersiar desas-desus bahwa evakuasi itu merupakan siasat licik untuk menenggelamkan mereka di samudra lepas. Kepastian isu miring tersebut belum terverifikasi secara pasti dalam catatan arsip sejarah.
Rasa waswas dan ketakutan mendalam akhirnya memantik aksi defensif. Sebagian masyarakat Tionghoa memilih mengumpulkan senjata demi menggempur sejumlah fasilitas milik VOC, termasuk penggilingan tebu. Penguasa kolonial langsung memobilisasi balatentara guna meredam perlawanan, terutama usai puluhan personel militer serikat dagang dilaporkan tewas meregang nyawa.
Sejarawan terkemuka M.C. Ricklefs lewat Sejarah Indonesia Modern (1999) membeberkan bahwa per 9 Oktober 1740, Valckenier menginstruksikan anak buahnya melakukan operasi penyisiran ke kantong-kantong pemukiman Tionghoa di dalam maupun luar benteng Batavia.
Keesokan harinya, aksi jagal massal meletup tanpa kendali, di mana seluruh orang Tionghoa yang terendus dihabisi tanpa membedakan batasan umur serta jenis kelamin.
Ngerinya tumpukan korban terekam gamblang dalam laporan G. Bernhard Schwarzen via Reise in Ost-Indien (1751). Ia mendeskripsikan setiap lorong, jalur jalan, serta saluran air terisi bangkai manusia.
"Bahkan kaki kita tak akan basah ketika menyeberangi kanal jika melewati tumpukan mayat-mayat itu," bunyi penuturan Schwarzen seperti tercantum pada rujukan historis tersebut.
Peristiwa kelam ini kerap dipautkan dengan penamaan Kali Angke di kawasan Jakarta. Mengutip penuturan Alwi Shahab pada Betawi: Queen of the East (2002), sebutan Angke konon berakar dari logat Hokkien, yaitu "ang" yang bermakna merah serta "ke" yang berarti sungai. Walau begitu, ada narasi lain yang mengaitkan istilah sungai tersebut dengan figur bangsawan Tubagus Angke.
Gelombang pembunuhan massal yang berlangsung sampai 22 Oktober 1740 itu diprediksi mengorbankan belasan ribu orang Tionghoa, berbarengan dengan pembumihangusan serta penjarahan tempat tinggal mereka. Geger Pecinan akhirnya tercatat menjadi episode paling berdarah dalam rentetan sejarah kekuasaan VOC di Batavia, yang kemudian memicu serangkaian aturan diskriminatif baru berupa pembatasan gerak hingga segregasi teritorial hunian khusus.






