Tingkat Pernikahan di China Sentuh Titik Terendah dalam 18 Tahun

Posted on
banner 336x280

Tingkat perkawinan masyarakat China terus mengalami kemerosotan drastis hingga menyentuh rekor terendah dalam kurun 18 tahun pada periode Januari sampai September tahun ini. Kecenderungan ini kian memperdalam kecemasan terkait ancaman krisis demografi, khususnya penyusutan angka kelahiran serta lonjakan jumlah warga lanjut usia di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Berdasarkan catatan statistik dari Kementerian Urusan Sipil China, hanya tercatat 4,65 juta pasangan yang melangsungkan ikatan perkawinan sepanjang sembilan bulan pertama tahun berjalan. Pada saat yang bersamaan, sebanyak 2,08 juta pasangan resmi memutuskan bercerai, sebagaimana diberitakan oleh media lokal Yicai pada Jumat (6/11/2026).

banner 468x60

Penyusutan jumlah perkawinan menjadi persoalan berat bagi otoritas China yang memandang institusi nikah sebagai syarat mutlak sebelum melahirkan keturunan. Keadaan ini juga mempertajam kegelisahan menyangkut menyusutnya kelompok umur produktif yang bakal menopang roda ekonomi nasional pada masa depan.

Pemerintah setempat sejatinya telah mengucurkan bermacam program insentif demi merangsang minat menikah sekaligus menaikkan natalitas. Upaya tersebut diwujudkan lewat bantuan dana keluarga, tunjangan perawatan anak, hingga pemotongan tarif layanan kesehatan persalinan.

Tak hanya itu, pengambil kebijakan berusaha memasukkan keperluan kaum muda dan rumah tangga ke rencana pembangunan kota, meliputi suplai hunian, sarana medis, sektor edukasi, dan prasarana umum. Strategi ini ditujukan demi menghadirkan atmosfer yang kondusif bagi pasangan muda agar bersedia membina rumah tangga serta merawat buah hati.

Kendati demikian, serangkaian kebijakan itu belum sanggup meredam gelombang krisis kependudukan. Negeri ini kini menghadapi pembengkakan kuantitas warga senior, sampai-sampai rasio ketergantungan kaum lansia kini telah melampaui rasio ketergantungan anak-anak.

Jumlah penduduk China bahkan telah mencatatkan penyusutan selama empat tahun beruntun sampai 2025, akibat anjloknya tingkat fertilitas ke level paling rendah. Kalangan pakar demografi menegaskan bahwa penurunan ini berpeluang terus berlangsung hingga berdekade-dekade ke depan.

Beban demografi diprediksi bertambah gawat lantaran populasi wanita umur subur, antara 15 hingga 49 tahun, terus merosot tajam. Proyeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan kelompok wanita ini bakal lenyap lebih dari dua pertiga bagian, menyisakan di bawah 100 juta jiwa saat abad ini berakhir.

banner 336x280