Nilai tukar mata uang rupiah berakhir pada posisi Rp18.156 per dolar AS pada sesi transaksi sore hari Senin (2/11). Posisi mata uang Garuda tercatat turun sebesar 9 basis poin atau menyusut sekitar 0,05 persen bila dibandingkan dengan capaian akhir perdagangan sesi terdahulu.
Dinamika nilai tukar mata uang di regional Asia menunjukkan arah bervariasi sewaktu berhadapan dengan dolar AS. Yuan China terpantau menguat 0,11 persen, serta peso Filipina ikut terapresiasi sebesar 0,19 persen.
Akan tetapi, ringgit Malaysia merosot 0,32 persen, dolar Singapura melemah sebesar 0,05 persen, yen Jepang tergelincir 0,10 persen, won Korea Selatan turun 0,72 persen, serta dolar Hong Kong terdepresiasi tipis 0,02 persen.
Pada waktu bersamaan, mata uang utama dari negara-negara maju juga mencatatkan laju yang bervariasi. Mata uang euro menguat 0,35 persen, poundsterling Inggris terdongkrak 0,19 persen, dolar Kanada melangkah naik 0,01 persen, disusul franc Swiss yang menanjak 0,39 persen. Kebalikannya, dolar Australia terpangkas 0,15 persen di hadapan dolar AS.
Analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengutarakan bahwa pelemahan tipis rupiah berakar dari kehati-hatian para pelaku pasar selama pekan berjalan yang dipenuhi penantian rilis data ekonomi domestik, data global, dan perhelatan pemilu legislatif paruh waktu di Amerika Serikat.
"Rupiah ditutup melemah tipis terhadap dolar AS, mencerminkan kehati-hatian investor pada pekan yang diwarnai penantian terhadap data ekonomi domestik maupun global serta pemilu legislatif paruh waktu AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Lukman menjelaskan bahwa rilis inflasi serta neraca perdagangan Indonesia pada siang hari hasilnya terhitung lebih solid dibanding prediksi pasar sehingga mampu menopang rupiah. Kendati demikian, tekanan aksi jual bersih oleh investor asing di bursa saham masih memberatkan laju mata uang Garuda.
"Data ekonomi inflasi dan perdagangan Indonesia yang dirilis siang tadi relatif lebih baik dari harapan sehingga mendukung rupiah. Namun, aksi jual bersih investor asing di pasar ekuitas masih membebani rupiah," katanya.
Sementara itu, indeks dolar AS beserta harga minyak mentah global kompak bergerak turun seiring mencuatnya optimisme perundingan perdamaian di kawasan Timur Tengah.








