Jepang kembali menorehkan rekor bersejarah setelah angka warga yang berumur satu abad atau lebih melampaui angka 100.000 jiwa. Namun di balik rekor mengesankan ini, Negeri Matahari Terbit tengah dibayangi problem demografi rumit akibat melonjaknya populasi lansia yang diiringi penurunan angka kelahiran.
Sebagaimana diberitakan Al Jazeera, laporan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang pada September 2026 mengungkapkan ada 107.677 penduduk berusia 100 tahun ke atas. Angka itu naik 7.914 orang dibanding tahun silam dan menandai rekor lonjakan selama 56 tahun secara beruntun.
Mayoritas kaum centenarian tersebut, tepatnya 94.298 orang atau kira-kira 87,6 persen, didominasi wanita. Menteri Kesehatan Jepang Kenichiro Ueno mengapresiasi pencapaian ini seraya menyebut semakin ramai masyarakat yang berhasil menjalani masa tua secara panjang, prima, serta produktif.
Ueno menjelaskan tingginya angka usia harapan hidup ini didorong oleh terobosan medis modern, peningkatan kualitas gizi, dan kepatuhan pola hidup sehat. Walau demikian, ia mengingatkan pentingnya memelihara keberlangsungan jaminan sosial nasional saat proporsi lansia terus meroket naik.
Kunci Rahasia Umur Panjang Masyarakat Jepang
Panjangnya rentang umur warga Jepang bukan dipicu oleh satu unsur saja. Kombinasi konsumsi pangan lokal kaya ikan, sayur mayur, dan nasi, dibarengi rutinitas fisik berjalan kaki, gowes sepeda, hingga partisipasi sosial bermasyarakat menjadi elemen pendukung kebugaran tubuh serta usia panjang.
Di samping itu, skema proteksi kesehatan semesta Jepang menjamin kemudahan akses fasilitas medis bermutu. Keberhasilan sistematis ini nyatanya berimbas pada tekanan finansial negara lantaran jumlah tenaga kerja produktif pembayar pajak dan iuran sosial terus tergerus berkurang.
Otoritas Jepang sejatinya telah meluncurkan ragam stimulus, mulai dari bantuan finansial tunai anak, sokongan sarana pengasuhan, sampai fasilitas cuti kerja orang tua guna memacu angka reproduksi.
Sayangnya, kecenderungan defisit kelahiran belum memperlihatkan tanda perbaikan akibat maraknya penundaan usia nikah, instabilitas karier kerja, pendapatan mandek, serta beban pengasuhan domestik yang memberatkan generasi muda untuk berketurunan.
Dilema menuanya masyarakat bukan monopoli Jepang semata. Catatan WHO menunjukkan usia harapan hidup dunia menyentuh 73,3 tahun pada 2024, bertambah 8,4 tahun dari 1995, sementara populasi global berusia 60 tahun ke atas diramal merangkak dari 1,1 miliar pada 2023 jadi 1,4 miliar pada 2030.
Memiliki umur rata-rata tengah 49 tahun di 2023, Jepang menempati jajaran negeri paling tua sejagat. Catatan 100.000 manusia seabad ini menjadi bukti sukses memperpanjang umur sekaligus ujian pelik dalam menopang ketahanan ekonomi serta tata kelola sosial.
Lansia Terus Bertambah, Angka Kelahiran Kian Rendah
Kurang lebih tiga dari sepuluh orang di Jepang kini telah berumur 65 tahun atau lebih. Porsi warga lanjut usia ini diestimasi menembus 40 persen pada 2070 nanti, di tengah tingkat kesuburan tahun 2025 yang hanya 1,14 anak per perempuan, amat rendah dibanding batas aman 2,1 kelahiran.
Kondisi kemerosotan ini menyebabkan total populasi menyusut tajam. Kalkulasi pemerintah memprediksi jumlah penduduk bakal anjlok dari kisaran 128 juta orang pada 2008 menjadi 87 juta jiwa pada 2070, memicu beban berat bagi pemenuhan tenaga kerja, tunjangan pensiun, sektor kesehatan, serta fasilitas rawat lansia.








