Jakarta, CNBC Indonesia – Kepala Bappenas/Menteri PPN Rachmat Pambudy mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi tiga tantangan mendasar sejak 1940. Problem pokok tersebut meliputi ketersediaan pangan, ketahanan energi, serta air bersih.
Rachmat mencontohkan gelombang unjuk rasa pada 1965 akibat lonjakan tarif bahan bakar minyak (BBM). Waktu itu, massa menuntut penurunan harga komoditas pokok serta stabilitas harga minyak nasional.
"Minta menurunkan harga beras. Masih saja urusannya pangan, energi, dan air," kata Rachmat saat menghadiri Dialog Nasional Pemberdayaan di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Hingga kini persoalan klasik itu belum tuntas. Kendati demikian, pemerintah merancang sejumlah skema penyelesaian. Penguatan swasembada pangan, energi, dan air sendiri masuk ke dalam prioritas program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Rachmat kemudian mengomparasikan situasi dalam negeri dengan kondisi kawasan Eropa. Dia menegaskan bahwa antrean bahan bakar memang jarang ditemui di Eropa. Akan tetapi, masyarakat Benua Biru memilih menonaktifkan pendingin ruangan pada musim panas demi menekan konsumsi energi.
Sebagai contoh, hotel kelas bintang empat di Eropa sengaja mematikan pendingin udara. Tak cuma hotel, pengemudi mobil pribadi maupun taksi kerap mematikan pendingin guna menghemat BBM.
"Alhamdulillah, kita harus syukuri. Coba kita di sini. Hotel tidak ada bintang saja masih bisa mendinginkan ruangan. Mobil di Eropa, taksi, seringkali mematikan pendingin karena menghemat bahan bakar," tuturnya.
Berdasarkan data CNN Indonesia, ada sedikitnya tujuh negara Eropa yang resmi memberlakukan regulasi pembatasan AC. Ketujuh wilayah itu mencakup Spanyol, Italia, Yunani, Prancis, Jerman, Swiss, serta Belanda.







