Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Barat mencatat adanya penurunan tajam terkait ketersediaan komoditas beras premium di berbagai jaringan toko modern.
BANDUNG — Kelangkaan beras mutu premium kini melanda gerai-gerai ritel modern di wilayah Jawa Barat. Berdasarkan keterangan Aprindo setempat, minimnya pasokan akibat hambatan suplai dari pihak distributor disinyalir menjadi pemicu utama persoalan tersebut.
Hasil pemantauan langsung pada beberapa gerai modern di kawasan Sariwangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, mendapati rak penjualan beras premium kosong. Kelangkaan barang kebutuhan pokok ini terlihat di minimarket Alfamart, Yomart, sampai Oi Save.
Ketua DPD Aprindo Jawa Barat, Yudi Hartanto, menjelaskan bahwa laporan perihal anjloknya ketersediaan bahan pangan utama tersebut telah diterima dari para anggotanya di sejumlah daerah. Dirinya memperkirakan keadaan sulit ini bersumber dari keterbatasan pengiriman pasokan pihak penyalur.
"Memang saat ini ada penurunan ketersediaan stok beras di sejumlah gerai anggota kami, terutama untuk beras premium. Mungkin kondisi ini kalau kami pantau lebih disebabkan oleh keterbatasan pasokan dari supplier," tutur Yudi kepada awak media, Senin (28/9/2026).
Yudi menerangkan beberapa penyuplai rutin yang biasa memasok beras ke pasar modern mulai mengurangi kapasitas pengiriman, bahkan ada yang menyetop sementara. Alhasil, jaringan toko saat ini amat bertumpu pada suplai beras dari Perum Bulog.
Kendati demikian, Yudi menuturkan frekuensi beserta volume pengiriman komoditas dari Bulog masih belum mampu mencukupi angka permintaan penjualan toko dalam durasi waktu tertentu. Stok beras terancam minim lantaran jalur distribusi logistik menuju rak penjualan ritel menghadapi hambatan.
"Misalnya, Bulog kirim yang seharusnya untuk sepekan, tapi ya dua-tiga hari sudah habis. Kebutuhan sepekan misalnya 400 pack, 400 pack (kemasan 5 kilogram), ya saat ini ya paling dikirim eh 100, 150, 200 pack, rata-rata ya maksimal ya 50 persen," ucapnya memaparkan.
Ia melanjutkan, distributor yang mulanya mengirimkan stok untuk kebutuhan sepekan penuh, kini hanya memberi alokasi konsumsi dua hingga tiga hari.
"Jadi ya asumsinya paling pasokannya antara- sekitar 25 persen, 30 persen. Turunnya 60-70 persen," ungkap Yudi menambahkan rincian angka penyusutan tersebut.
Di wilayah Jawa Barat, Aprindo saat ini menaungi sebanyak 33 peritel serta 21 toko grosir. Mengingat krisis barang yang terjadi, pihaknya belum dapat menyimpulkan akar persoalan pasti tanpa verifikasi langsung kepada para produsen pengirim.
"Kami juga kondisinya banyak hal yang kami tidak paham gitu, kenapa mendadak berasnya kosong. Tapi ya, pemerintah menyatakan beras itu sebenarnya ada, hanya yang medium sepertinya yang banyak, yang premium yang boleh dijual di toko swalayan, di ritel modern itu kan sementara hanya yang premium, dan premiumnya ini mengalami kekosongan," jelas Yudi.
Ia mengamati warga yang beralih mencari beras menuju warung kelontong maupun pasar rakyat pun menemukan kelangkaan serupa. Asosiasi berharap Perum Bulog dapat mempercepat dan memperlancar distribusi pasokan.
Berdasarkan data asosiasi, jumlah cabang minimarket di area Bandung Raya kini menembus angka 1.000 toko, sementara jaringan di Jawa Barat secara menyeluruh mencapai 8.000 gerai ritel modern.


