Jakarta, CNBC Indonesia – Para pengemudi taksi di Afghanistan memilih bertindak nekat dengan tetap memutar alunan musik di dalam armada mereka, sebuah aksi perlawanan sunyi terhadap aturan ketat rezim Taliban kendati ancaman penangkapan oleh aparat moral terus membayangi.
Melansir laporan Bangkok Post pada Jumat (25/9/2026), irama nada yang dahulunya kerap berkumandang memenuhi restoran, kedai kopi, serta pertokoan di Kabul telah dibungkam total selama lima tahun ke belakang. Ragam hiburan khalayak tersebut saat ini hanya disubstitusi oleh lantunan kidung rohani serta tembang patriotik yang disetujui otoritas Taliban pasca-merebut kekuasaan pada tahun 2021 silam.
Menyikapi restriksi yang kaku tersebut, sejumlah awak taksi seperti pemuda bernama Roeen memberanikan diri menyetel lagu-lagu folk maupun pop khas Afghanistan dan wilayah sekitarnya. Kendati demikian, alunan nada tersebut langsung ia matikan begitu melihat gerak-gerik petugas keamanan di sekitar jalurnya.
"Di setiap pos pemeriksaan yang kami lewati, kami mengecilkan volume musik atau bahkan mematikannya sama sekali… agar saya tidak mendapat masalah dengan mereka," tutur Roeen, yang memilih merahasiakan nama belakangnya demi faktor keselamatan jiwa.
Pelaksanaan aturan pencekalan musik di ruang publik diawasi langsung Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan (PVPV), yang petugas moralnya intens berpatroli mengitari sudut kota berbalut mantel putih panjang. Ketentuan resmi PVPV menegaskan bahwa lantaran musik berstatus terlarang dan dianggap mengusik kenyamanan penumpang, segenap sopir diwajibkan menahan diri untuk tidak memutar ataupun menikmatinya.
Lembaga kementerian bersangkutan enggan memberikan keterangan saat dikonfirmasi mengenai bentuk sanksi pasti bagi pelanggar pemutar musik, kendati masyarakat yang tepergok melanggar dipastikan menghadapi ancaman kurungan penjara. Roeen menuturkan bahwa para petugas PVPV memegang wewenang yang terlampau mutlak sehingga warga sipil senantiasa hidup penuh kewaspadaan tinggi.
"Kami tentu saja terlalu takut pada mereka untuk bisa mendengarkan musik dengan volume yang lebih keras," ungkapnya secara terbuka.
Sembari mengendalikan setir melintasi keriuhan dan kemacetan jalanan Kota Kabul, Roeen merasa ketertarikannya menikmati alunan nada justru melonjak hingga 10 kali lipat semenjak restriksi keras diberlakukan. Di kawasan di mana aneka hiburan termasuk gedung bioskop dilarang beroperasi, rutinitas mendengarkan lagu secara konsisten menjelma menjadi simbol perlawanan personal bagi pria berusia 28 tahun itu.
"Saya harus memastikan bahwa meskipun saya tidak bisa mendengarkan di pagi hari, pada pukul delapan musik saya menyala," tegasnya penuh keyakinan.
Pengemudi taksi lain berumur 32 tahun, yang menolak dibeberkan identitasnya karena alasan keamanan pribadi, menuturkan bahwa ia hanya berani menyetel musik saat berada sendirian tanpa penumpang di dalam kendaraannya. Pria tersebut mengaku sempat dua kali disetop pada pos pemeriksaan akibat kedapatan memasang kaset USB serta kartu memori pada sistem pemutar audionya.
"Sebelumnya, kapan pun seseorang mau, mereka bisa mendengarkan tanpa rasa khawatir atau stres. Tapi sekarang… secara pribadi saya mendengarkan, tetapi dengan sedikit stres," paparnya menceritakan keadaan batinnya.
"Saya tidak berbohong, saya mengatakan itu berisi musik, dan mereka menghancurkannya. Budaya Afghanistan tidak boleh lenyap, dan musik adalah salah satu budaya rakyat kita. Secara pribadi, saya tidak ingin budaya ini menghilang," ucapnya menjelaskan prinsip yang dipegang teguh.
Sebagai bentuk implementasi penindakan berkesinambungan atas dekrit pelarangan tersebut, kantor wilayah PVPV secara berkala mendokumentasikan aksi pemusnahan alat musik sitaan dengan cara dibakar. Juru bicara kementerian, Saiful Islam Khyber, menerangkan bahwa belum ada data statistik pasti mengenai berapa total unit instrumen musik yang telah mereka sita hingga saat ini.
Di sudut lain realitas warga, masyarakat Kabul menggantungkan mobilitas harian mereka pada armada taksi komunal guna melintasi kawasan urban yang sama sekali minim fasilitas angkutan umum memadai. Praktik lazimnya memperlihatkan dua orang berdesakan di kursi depan bersama pengemudi, tiga duduk di belakang, dan sesekali terlihat penumpang menempati ruang bagasi yang dibiarkan terbuka.
Shamsullah Ahmad (29), seorang mahasiswa jenjang magister, menceritakan bahwa ia senantiasa mengecek ketersediaan pemutar lagu sebelum menaiki taksi tumpangan. Pasalnya, aparat moral terpantau kerap mencopot penyuara telinga (headphone) langsung dari telinga warga demi membuktikan apakah mereka tengah mendengarkan musik secara rahasia.
"Saya lebih suka musik di dalam mobil, karena memakai headphone akan ketahuan, tetapi di dalam mobil, meskipun dengan volume yang lebih rendah itu lebih baik daripada tidak sama sekali," kata Ahmad memberikan pengalamannya.
Kondisi pembungkaman budaya ini memberikan tekanan psikologis yang amat menyesakkan dada bagi khalayak sipil setempat. Roeen mengungkapkan kerinduan mendalamnya pada masa silam saat warga leluasa menikmati irama lagu, berdansa bebas, serta menggelar pesta gembira tanpa intervensi maupun ancaman jeratan sanksi kekuasaan.
"Namun kini kota diselimuti kegelapan, kegelapan tanpa cahaya," pungkasnya menutup keluh kesah tersebut.








