Jakarta, CNBC Indonesia – Wacana mendatangkan armada kereta rel listrik (KRL) bekas asal Jepang guna menopang operasional komuter Jabodetabek belum menemui kejelasan. Walaupun mobilitas penumpang kian melonjak sementara usia sarana terus menua, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menginginkan pemenuhan armada kereta mengandalkan industri domestik ketimbang membeli unit bekas dari mancanegara.
Ketika dijumpai pada seremoni pembukaan TEI di ICE BSD, Tangerang, Rabu (14/10/2026), Budi membeberkan bahwa Kementerian Perdagangan (Kemendag) sama sekali belum menerima berkas permohonan lisensi impor KRL afkir asal Negeri Sakura. Oleh sebab itu, gagasan yang sempat digulirkan oleh manajemen PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) (Persero) tersebut belum berproses secara formal di mejanya.
"Kalau kami sih berharapnya produksi dalam negeri kan sudah ada, jadi saya berharap tidak ada impor bekas. Tapi sampai sekarang belum ada pengajuan," ujar Budi.
Dirinya menggarisbawahi bahwa Kemendag sifatnya pasif dan menunggu jika berkas perizinan tersebut nantinya didaftarkan. Kendati begitu, masa depan gagasan ini masih belum memiliki kepastian nyata, termasuk mengenai kepastian PT KAI bakal merealisasikan pembelian rangkaian kereta terpakai dari Jepang tersebut.
"Kita tunggu kalau ada, tapi belum tahu," kata Budi.
Sebaliknya, operator KAI memandang pembelian kereta bekas sebagai opsi darurat demi merespons ledakan jumlah pengguna angkutan rel. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin beberapa waktu lalu menerangkan bahwa volume pemakai jasa komuter Jabodetabek sepanjang semester I 2026 melonjak 11,5% dibandingkan kurun waktu serupa tahun lalu, melampaui proyeksi semula di kisaran 3%-4%.
"Ini terjadi anomali kalau kita bandingkan 2025 di 2026, itu 11,5%. Ini semester I di semester I, itu 11,5%. Yang tadinya rata-rata penumpang harian itu di bawah 1 juta, sekarang itu sudah 1,1 juta," ujar Bobby dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (23/9/2026).
Pertumbuhan volume pengguna tersebut terlihat nyata pada simpul transit berkepadatan tinggi. Ambil contoh Stasiun Bogor, pergerakan penumpang naik maupun turun yang mulanya berkisar di bawah 100.000 jiwa setiap hari saat ini meroket menyentuh 160.000 jiwa. Fenomena ini menegaskan bertambah tingginya ketergantungan warga pada moda komuter demi menyokong rutinitas harian.
Pada waktu bersamaan, faktor keausan sarana kian membebani kinerja jaringan rel. KAI mengidentifikasi sebanyak 92 trainset sudah mencapai usia pakai 40 tahun sehingga patut dipensiunkan secara berjenjang. Keadaan diprediksi kian kritis menjelang tahun 2029 mendatang, saat deretan rangkaian menyentuh masa 45 tahun disertai kelangkaan suku cadang serta kelelahan fisik rangka.
"Yang paling tinggi itu ada di 2029. Ketika trainset-trainset kita ini sudah berumur 45. Sudah berumur 45. 45 ini kita sudah tidak deal, satu sparepart-nya sudah tidak ada. Yang kedua, secara metal dia sudah mulai fatigue," katanya.
KAI menilai opsi pengadaan sarana terpakai mampu berperan menjadi jembatan penyelamat selagi manufaktur dalam negeri mematangkan skala produksinya. Memesan unit anyar memerlukan durasi yang relatif panjang, sedangkan pengiriman kereta bekas Jepang diyakini sanggup beroperasi lebih cepat guna menambal defisit sarana. KAI merancang masa guna kereta impor tersebut sekitar 10 tahun.
"Kalau kita impor baru, nantinya produksi kereta dalam negeri akan terganggu. Kalau bekas ini hanya untuk transisi," ujar Bobby.
