Situasi Arab Saudi Memanas, Raksasa Minyak Aramco Pulangkan Karyawan

Posted on
banner 336x280

Kekhawatiran akan gempuran lanjutan di Arab Saudi kian memuncak hingga raksasa energi Saudi Aramco memberlakukan tindakan darurat dengan mengosongkan markas utamanya di Dhahran. Produsen minyak bumi terbesar di dunia tersebut memerintahkan para pekerjanya menjalankan tugas dari rumah, sebuah kebijakan perdana semenjak konflik bersenjata yang menyeret Iran meletus.

Berdasarkan laporan Reuters pada Jumat (23/10/2026), enam narasumber terpercaya mengungkapkan imbauan evakuasi tersebut diberlakukan tepat sehari pascainsiden di Bandara Internasional King Fahd, Dammam, yang merenggut dua korban jiwa serta melukai delapan individu. Pihak manajemen Aramco belum menyampaikan pernyataan resmi, sementara pemicu spesifik pengosongan gedung belum diungkapkan secara gamblang.

banner 468x60

Tekanan terhadap Aramco kian intensif seusai faksi Houthi yang disokong Iran dilaporkan membombardir kantor pusat korporasi itu pada permulaan bulan ini. Tiga sumber internal mengonfirmasi gempuran tersebut memicu kerusakan fisik cukup fatal serta menyulut kobaran api yang melalap beberapa lantai bangunan bertingkat itu.

Gedung sentral itu sendiri menjadi basis pusat kendali operasional Aramco dalam mengawasi rig pengeboran darat dan lepas pantai, kompleks kilang, dermaga pengapalan ekspor, hingga bentangan pipa minyak sepanjang ribuan kilometer. Gangguan teknis pada fasilitas vital ini dapat menjadi persoalan krusial mengingat peran dominan Aramco sebagai pilar utama sektor migas di Arab Saudi.

Gempuran militer turut mengancam infrastruktur energi lainnya. Kementerian Energi Arab Saudi merilis keterangan bahwa dua orang tewas pada Rabu usai sistem pertahanan udara melumpuhkan sebuah pesawat nirawak penyerang yang mengincar instalasi di ladang minyak Shaybah, kawasan yang berjarak ratusan kilometer arah tenggara Dhahran.

Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menanggapi gempuran Houthi dengan menggelar rentetan balasan terhadap area-area peluncuran proyektil. Riyadh turut mengklaim sukses merontokkan sejumlah besar rudal balistik kiriman milisi tersebut, sembari menggalang solidaritas internasional yang lebih solid demi menangkis serbuan drone serta peluru kendali.

Kendati begitu, Amerika Serikat (AS) yang berperan sebagai mitra inti sekaligus pelindung keamanan tradisional Arab Saudi masih enggan meluluskan desakan Riyadh untuk terjun langsung menghadapi Houthi. Bersamaan dengan itu, Departemen Luar Negeri AS justru menginstruksikan para diplomat serta kerabatnya angkat kaki dari perwakilan diplomatik di Saudi, di samping agenda pemulangan keluarga staf konsulat lainnya di Timur Tengah.

Manuver Washington ini memperpanjang restrukturisasi diplomatik regional selama beberapa bulan terakhir, dipicu aksi militer Iran terhadap aset-aset milik AS. Eskalasi panas itu berakar sejak peperangan antara kubu AS-Israel kontra Iran berkobar pada akhir Februari, memperbesar ancaman keselamatan atas infrastruktur minyak serta kepentingan strategis di perairan Teluk.

banner 336x280