Aktivitas transportasi di Kyiv, ibu kota Ukraina, mengalami kelumpuhan total menyusul rentetan serangan pesawat tak berawak milik militer Rusia yang menyasar jembatan vital di kawasan tersebut.
Gempuran udara tentara Rusia di wilayah Ukraina ini merenggut setidaknya enam korban jiwa serta mengakibatkan kerusakan fisik pada Jembatan Utara Kyiv, memicu penghentian total arus kendaraan di sekitarnya.
Hantaman drone tersebut menghancurkan struktur aspal jalan raya sekaligus memutus instalasi kabel daya bus listrik, sehingga pihak berwenang terpaksa menutup akses perlintasan.
Sebagaimana diberitakan Reuters pada Jumat (2/10/2026), kemacetan mengular yang tak bergerak terlihat memenuhi jalur-jalur utama di ibu kota Ukraina saat ribuan mobil dan armada bus berupaya menelusuri rute pengganti.
Kepadatan parah ini dipicu penutupan menyeluruh kedua lajur Jembatan Selatan, salah satu penghubung penting di antara delapan jembatan pemisah Kyiv timur dan barat yang membentang di Sungai Dnipro.
Sementara itu, Jembatan Paton di sektor utara cuma dapat dilalui searah, kendati tidak ditemukan indikasi adanya amunisi yang mengenai jembatan tersebut.
Pemerintah Ukraina sejak lama mencemaskan ancaman terhadap infrastruktur penyeberangan kunci mereka. Kyiv kian gencar dihujani serangan rudal dan drone Rusia dalam beberapa bulan ke belakang, membuat kota waspada serta rutinitas warga terganggu.
Deru sirene bahaya udara kini terdengar nyaris tiada henti, memaksa berkisar tiga juta masyarakat Kyiv bergegas menuju bunker perlindungan bawah tanah demi menyelamatkan diri.
