Eskalasi di Semenanjung Korea kembali memanas usai Korea Utara melayangkan protes keras terhadap simulasi pertahanan udara bersama antara Korea Selatan dan Amerika Serikat yang mengerahkan jet tempur siluman F-35. Bersamaan dengan manuver militer tersebut, otoritas Seoul juga memperingatkan Pyongyang bahwa tindakan tegas bakal diambil jika terjadi pelanggaran garis batas.
Kementerian Pertahanan Korea Utara menganggap manuver bersandi Freedom Flag tersebut kian memperkeruh stabilitas keamanan kawasan. Lewat rilis kantor berita resmi KCNA pada Jumat (30/10/2026), juru bicara kementerian menegaskan komitmen Pyongyang guna memperkokoh kekuatan tempur mereka demi membendung provokasi dari kubu Washington beserta para mitranya.
"Tidak ada batasan bagi pilihan DPRK untuk mempertahankan postur pencegahan yang kuat, yang mampu menghadapi secara efektif segala ancaman yang ditimbulkan oleh langkah-langkah militer AS beserta kekuatan pendukungnya," papar juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Utara, seperti dilansir Reuters.
Berdasarkan keterangan Kementerian Pertahanan Korea Selatan, agenda latihan gabungan itu bergulir mulai Senin bertempat di Pangkalan Udara Kunsan dan diagendakan berakhir pada 6 November. Agenda militer ini mengikutsertakan pesawat tempur siluman F-35A kepunyaan armada Korea Selatan serta jet F-35B milik Korps Marinir AS yang berteknologi mutakhir.
Friksi bersenjata tersebut berbarengan dengan sengketa tapal batas antar-Korea. Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan Wi Sung-lac menegaskan pada Jumat bahwa Seoul siap bereaksi keras dalam menjaga kedaulatan demarkasi militernya, kendati pihak Pyongyang bersikeras operasi mereka cuma berlangsung dalam yurisdiksi teritorial Korea Utara.
Gesekan kian meruncing seiring insiden ledakan ranjau darat di Zona Demiliterisasi (DMZ) bulan silam yang mengakibatkan beberapa prajurit Korea Selatan menderita cedera ketika berpatroli. Seoul menduga bahan peledak itu ditaruh oleh pihak Korea Utara, sedangkan Komando PBB pengawas DMZ menilai ranjau Korut melintasi garis batas tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata. Pyongyang membantah keterlibatan dalam ledakan itu.
Kondisi kian rentan usai Kim Yo Jong, saudari pemimpin tertinggi Kim Jong Un, berujar pada 21 Oktober bahwa pihak Pyongyang berniat menghidupkan kembali pengeras suara propaganda anti-Seoul di area perbatasan sebelum tutup bulan Oktober. Walau demikian, aparat intelijen Korea Selatan mengonfirmasi sampai Kamis penyiaran propaganda tersebut belum juga berlangsung.
Kedua negara bertetangga ini sebelumnya memanfaatkan pelantang suara sebagai sarana melancarkan perang urat saraf di batas negara. Protes Pyongyang terhadap latihan jet siluman AS-Korsel, ditambah kisruh ranjau darat serta ancaman siaran propaganda, kian mengobarkan tensi di Semenanjung Korea di tengah rasa saling tidak percaya atas manuver militer masing-masing.







