Sambut Seabad Frans Seda, IMDE Sukses Selenggarakan Kompetisi Sinema Vertikal Pelajar

Posted on

Liputan6.com, Jakarta – Institut Media Digital Emtek (IMDE) bersama dengan Frans Seda Foundation (FSF) berpadu menggelar ajang adu sinema berformat vertikal khusus bagi para siswa tingkat SMA/SMK sederajat dari penjuru nusantara.

Kompetisi sinematografi yang mengangkat topik penting mengenai kemajemukan, tenggang rasa, serta keharmonisan sosial tersebut diselenggarakan sebagai rangkaian perayaan seabad tokoh nasional Frans Seda yang bertajuk Centennial Celebration. Momentum istimewa perayaan ini dipusatkan langsung di kampus Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, Jakarta, pada Jumat (9/10/2026).

Perhelatan bergengsi Lomba Film Vertikal 2026 ini dirancang sebagai wujud konkret guna memicu daya cipta anak-anak muda melalui karya visual kreatif yang menonjolkan esensi keberagaman, harmoni bersama, dan nilai toleransi tinggi.

Rektor IMDE, Totok Amin Soefijanto, memaparkan bahwa IMDE bersinergi secara langsung dengan pihak Frans Seda Foundation dalam mewadahi partisipasi para pelajar tingkat menengah dari berbagai wilayah Indonesia. Gagasan perlombaan ini, lanjut dia, lahir dari inspirasi keberadaan Terowongan Silaturahim yang menghubungkan kompleks Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta sebagai simbol kerukunan antarumat beragama di Tanah Air.

Menurut Totok, ada sepasang target fundamental yang ingin diraih lewat kompetisi ini. Misi pertama adalah mengajak generasi penerus menjaga keutuhan bangsa dengan mengoptimalkan sarana audio visual dalam mengabarkan pesan persaudaraan. Misi berikutnya ialah menyiapkan wadah lahirnya bibit-bibit berbakat baru yang mampu berkontribusi aktif dalam ranah industri konten kreatif Tanah Air.

“Demikian, kami persembahkan para pemenang lomba film vertikal yang pertama. Terima kasih kepada FSF, RANS Entertainment, Superbank, Vidio.com, Mayora, Emtek Media, Emtek Beauty, dan seluruh sponsor,” kata Totok, Minggu (11/10/2026).

Ketua panitia Lomba Film Vertikal 2026, Teguh Setiawan, menerangkan bahwasanya film pendek bertata letak tegak merupakan adaptasi teknologi sinema modern terhadap kebiasaan penonton gawai di era arus informasi digital.

“Film vertikal bukan sekadar mengubah format gambar menjadi tegak, tetapi juga membutuhkan pendekatan visual dan cara bercerita yang berbeda. Sementara itu, durasi pendek menuntut pembuat film mampu membangun konflik, emosi, dan pesan secara efektif sejak awal cerita,” ujar Teguh.

Ia berpandangan, rintangan terbesar saat meracik karya berdurasi ringkas adalah bagaimana menumpahkan gagasan narasi yang utuh dan tetap sarat pesan dalam batas waktu tayang yang sangat terbatas.

“Justru di sinilah kreativitas diuji. Bagaimana membuat penonton terhubung dengan cerita, merasakan emosinya, dan mengingat pesannya meski dalam waktu singkat. Kami berharap lomba ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki makna,” tambahnya.

Perhelatan Lomba Film Vertikal 2026 secara resmi mengusung tema besar “Berbeda, Bersama, Ruang untuk Semua”. Konsep narasi tersebut mengajak kalangan muda memposisikan kemajemukan sebagai pilar kokoh dalam membentuk tatanan masyarakat yang saling menghargai.

Lewat kompetisi ini, para kreator muda didorong merangkai cerita yang mencerminkan realitas sosial harian, menumbuhkan kepedulian bersama, dan mempertegas bahwa perbedaan bukanlah sekat pemisah untuk saling berdampingan secara damai.

Daftar Pemenang

Gelar juara pertama Lomba Film Vertikal 2026 sukses disabet oleh kontingen SMKN 65 Jakarta. Predikat Juara 2 diraih siswa SMK Kristen Immanuel 2 Sungai Raya, lalu torehan Juara 3 disabet MAN 2 Tulang Bawang Barat.

Sementara itu, penghargaan Juara Harapan 1 berhasil dibawa pulang oleh SMKN 1 Klaten, disusul perolehan gelar Juara Harapan 2 yang disabet wakil asal SMAK Monte Carmeli Maumere.

Berikut perincian lengkap penerima apresiasi Lomba Film Vertikal 2026:

Juara 1: SMKN 65 Jakarta

Juara 2: SMK Kristen Immanuel 2 Sungai Raya

Juara 3: MAN 2 Tulang Bawang Barat

Juara Harapan 1: SMKN 1 Klaten

Juara Harapan 2: SMAK Monte Carmeli Maumere

AI Hadirkan Sosok Frans Seda

Frans Seda memiliki nama lengkap Franciscus Xaverius Seda yang lahir pada tanggal 4 Oktober 1926 di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sosoknya terpatri kuat dalam sejarah pergerakan nasional sebagai pelopor dunia edukasi, figur rohani, pakar politik, sekaligus birokrat berwibawa. Almarhum tercatat memiliki kaitan historis mendalam dengan Unika Atma Jaya karena andil besarnya saat mendirikan institusi pendidikan tinggi tersebut.

Agenda perayaan satu abad kelahiran Frans Seda diisi dengan rangkaian agenda seremonial yang kaya makna. Rangkaian perayaan dibuka melalui Ibadah Misa Syukur bersama Uskup Ignatius Kardinal Suharyo yang berlokasi di Kapel St. Albertus Magnus, tepatnya Lantai 13 Gedung Karol Wojtyla. Rangkaian acara berlanjut pada suguhan seni pertunjukan panggung sandiwara hingga penyerahan penghargaan kepada para sineas pemenang film vertikal.

Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S (K), tampil menyampaikan pidato sambutan terkait seluruh kegiatan memorial ini. Dirinya turut menitipkan harapan besar agar generasi penerus sanggup mengadopsi serta mengaktualisasikan visi, buah pikiran, dan dedikasi luhur Frans Seda.

Suasana kian syahdu tatkala drama musikal bertajuk Untuk Tuhan dan Tanah Air dipentaskan guna memvisualisasikan perjalanan hidup mendiang. Alunan instrumen petik sasando yang dimainkan musisi Matio Jubileo asal NTT semakin menyempurnakan atmosfer kebudayaan.

Salah satu sajian mutakhir yang mengundang atensi besar publik ialah kehadiran proyeksi visual Frans Seda lewat teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Rekayasa digital itu mendatangkan wujud figur Frans Seda ke ruang seminar interaktif sehingga hadirin dapat berinteraksi seperti tengah berbicara langsung dengannya.

Pada sesi gelar wicara berteknologi AI tersebut, avatar digital Frans Seda merespons aneka pertanyaan audiens secara lugas. Muatan dialognya menitikberatkan pada urgensi pendidikan, ketekunan menimba wawasan, integritas kepribadian, serta etos kerja keras bagi para pemuda demi menjemput kemajuan.

Totok Amin Soefijanto menyimpulkan bahwa momentum perayaan seabad Frans Seda adalah sarana strategis membumikan kembali ide-ide sang pejuang dengan pendekatan mutakhir memanfaatkan media modern.

“Kita dari generasi yang lebih tua dapat membantu generasi muda memahami ide dan kegundahan Frans Seda, melalui AI dan media baru seperti film short vertikal, selain dari membaca ribuan artikel karyanya,” katanya.

Baca liputan menarik dan terpercaya di kanal Berita Liputan6

Momen Prabowo Lepas Kepulangan Presiden Mesir El-Sisi di Halim

Sekolah Anak Pesisir di NTB Padukan Edukasi Lingkungan dan Ekonomi Lokal

Mantan Ketua KPU Bantah Dugaan Pasal Selundupan di PKPU 19/2023

Teka-Teki Kematian Pemuda di Kos Jakbar, Empat Saksi Diperiksa

Cairan Pemadam Brasil Diuji di Kebakaran Gambut Sumsel

Hasil Olah TKP Kematian Pemuda Terbungkus Sleeping Bag di Kos Jakbar

Prabowo Sambut Tawaran Mesir Tambah Beasiswa Mahasiswa Indonesia

Prabowo dan El-Sisi Dorong Deeskalasi Konflik Timur Tengah Lewat Diplomasi

Syarat Pendidikan Capres-Cawapres Digugat ke MK