Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya memberikan tanggapan resmi mengenai kabar burung yang menyebut pengusaha terkemuka dari Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad atau yang akrab disapa Haji Isam, berencana mencaplok kepemilikan saham di PT Bank Central Asia Tbk atau BCA.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menerangkan bahwa institusinya senantiasa memantau secara saksama setiap pergerakan dan dinamika yang berkaitan dengan komposisi pemegang saham serta kontrol kepemilikan di panggung perbankan nasional.
"Dalam hal terdapat transaksi yang berpotensi mengakibatkan perubahan pemegang saham pengendali bank, OJK akan melakukan penilaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," ungkap Dian melalui pernyataan tertulis yang dirilis pada hari Kamis (15/10).
OJK memastikan seluruh proses pergeseran kepemilikan saham maupun pergantian kendali perbankan senantiasa dijalankan dengan pengawasan yang sangat ketat.
Langkah evaluasi tersebut meliputi kepatuhan penuh terhadap prinsip kehati-hatian (prudential logic), tata kelola perusahaan yang sehat (good corporate governance), serta serangkaian regulasi perundang-undangan yang mengikat.
Dian menegaskan, penyesuaian kepemilikan saham ataupun struktur pengendali pada entitas perbankan berukuran raksasa tidak boleh sekadar dipandang dari kacamata aktivitas transaksi jual beli instrumen saham semata.
"Dari perspektif prudensial, perubahan kepemilikan atau pengendalian pada bank besar tidak hanya dilihat dari aspek transaksi sahamnya, tetapi juga dari potensi dampaknya terhadap profil risiko bank, konsentrasi eksposur, transaksi dengan pihak terkait, kualitas penerapan tata kelola, serta keterkaitan antara bank dengan kelompok usaha yang berada di bawah pengendalian pemegang saham," urai Dian secara mendalam.
Oleh sebab itu, seandainya di masa mendatang terjadi pergeseran pengendali yang memiliki dampak material pada bank berskala besar, pihak OJK bakal menelaah seluruh konsekuensinya secara komprehensif, mulai dari lanskap persaingan usaha hingga ketahanan modal.
"OJK akan mencermati dampaknya secara menyeluruh, antara lain terhadap struktur persaingan industri, strategi bisnis bank, penyaluran kredit, likuiditas, permodalan, tata kelola, serta potensi konsentrasi risiko," tandas Dian.
Walaupun kerap diwarnai beragam desas-desus agenda korporasi dan konsolidasi, regulator menilai postur industri perbankan domestik saat ini tetap kokoh dan terjaga aman. Secara garis besar, ekosistem perbankan di tanah air tetap disokong oleh modal yang kuat, likuiditas memadai, serta disiplin prinsip kehati-hatian.
"OJK akan terus melakukan pemantauan terhadap berbagai dinamika kepemilikan, konsolidasi, maupun aksi korporasi di sektor perbankan untuk memastikan perkembangan tersebut berlangsung secara sehat dan tidak menimbulkan risiko terhadap stabilitas sistem keuangan," tutup Dian dalam keterangannya.
Sebelum kemunculan respons dari otoritas, manajemen BCA telah secara tegas menyangkal kabar burung terkait rencana pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, yang dikabarkan hendak mengakuisisi perseroan.
Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, menegaskan bahwa desas-desus aksi korporasi yang mencatut nama perusahaannya sama sekali tidak benar.
"Menanggapi isu yang beredar di media sosial terkait adanya rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA, dapat kami sampaikan bahwa informasi tersebut tidak benar," terang Hera dalam pernyataan resminya pada hari Jumat (25/9) yang lalu.
Hera turut mengimbau para nasabah beserta masyarakat luas untuk senantiasa menyaring dan memverifikasi setiap kabar seputar perseroan melalui jalur resmi maupun media yang terpercaya.
"Kami mengimbau nasabah dan masyarakat untuk mengakses informasi dari sumber-sumber yang resmi, baik dari situs resmi perusahaan maupun outlet media yang kredibel. BCA senantiasa beroperasi berdasarkan prinsip kehati-hatian, berintegritas, dan sesuai regulasi yang berlaku," tuturnya.
Kabar mengenai rencana pengambilalihan BCA oleh Haji Isam sendiri awalnya merebak luas di jagat maya, khususnya lewat beberapa akun edukasi pasar modal serta komunitas investor saham di Instagram.
Melalui unggahan viral itu, figur Haji Isam dirumorkan berminat mengambil alih porsi saham BCA memanfaatkan jejaring korporasinya, kendati postingan tersebut juga menegaskan wacana itu sebatas kabar spekulatif.
PT Bank Central Asia Tbk merupakan entitas perbankan swasta yang melantai di Bursa Efek Indonesia memakai kode saham BBCA. Adapun posisi pemegang saham pengendali dipegang PT Dwimuria Investama Andalan, entitas usaha yang terafiliasi erat dengan konglomerasi keluarga Hartono.







