Jakarta, CNBC Indonesia – Kinerja ekspor kopi nasional dinilai masih terhambat minimnya hasil panen petani lokal. Penegasan tersebut diutarakan Sujonsen, Ketua Harian BPP Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI). Sekarang tingkat produksi komoditas ini di tanah air baru menyentuh 700-80 Kilogram per hektare. Angka itu jauh tertinggal dari Vietnam yang mencatat 2 ton per hektare serta Brasil yang melampaui 1,5 ton per hektare.
Guna mendongkrak kapasitas tersebut, AEKI mendesak kolaborasi pemerintah, pebisnis, serta pekebun. Pembenahan mesti mencakup penyediaan bibit unggul, pemupukan berkualitas, regenerasi kebun, hingga teknik pemetikan. Kepastian nilai jual pun dinilai krusial untuk memperbaiki taraf hidup dan memikat warga agar terus berkebun kopi.
Mengenai perdagangan internasional, ekspor kopi kelas atas Indonesia sangat potensial menuju Jepang asalkan mematuhi standar ketat food safety. Rintangan lain datang dari Uni Eropa lewat regulasi anti-deforestasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang membayangi jalan produk lokal memasuki pasar benua tersebut.
Saksikan pembahasan komprehensif reporter Bunga Cinka bersama Ketua Harian BPP AEKI, Sujonsen di program Squawk Box, CNBC Indonesia (Kamis, 08/10/2026).






