Dirinya berkomitmen langsung mengontak pihak pemerintah beserta jajaran Perum Bulog.
JAKARTA — Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto atau akrab disapa Titiek Soeharto menjumpai delegasi peternak yang melangsungkan unjuk rasa di area Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, pada Rabu (7/10/2026). Dirinya menegaskan komitmen untuk segera berkomunikasi dengan kementerian terkait dan Bulog guna merumuskan jalan keluar mengenai kelangkaan komoditas jagung serta lonjakan harganya yang dikeluhkan peternak.
“Senang sekali tadi bisa menerima perwakilan dari jenengan semuanya. Kami sudah mendapatkan informasi mengenai masalah-masalah yang dihadapi. Turunnya harga telur kita ikut prihatin. Ini kenapa turun? Karena pakannya harganya naik, tidak ada jagungnya,” ungkap Titiek di hadapan massa peternak.
Kondisi ini dinilai Titiek cukup mengherankan di tengah klaim pemerintah perihal ketercapaian status swasembada jagung secara nasional. Menurut penjelasannya, makna swasembada pangan semestinya melampaui kecukupan pasokan fisik semata, melainkan wajib menjamin stabilitas harga yang masuk akal demi menjamin kemakmuran para petani sekaligus peternak.
“Saya setelah ini akan menghubungi Pak Menteri dan Bulog. Kenapa ini jagungnya tidak ada? Tidak ada, tidak dapat. Padahal katanya sudah swasembada jagung. Swasembada itu artinya tidak hanya jagungnya cukup, tapi harganya bagus dan petani-peternaknya sejahtera,” tambah Titiek memaparkan.
Sebelumnya, dalam sesi Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi IV DPR RI bersama Pinsar Petelur Nasional (PPN) pada hari yang serupa, Titiek mendengarkan keluhan terkait lonjakan pengeluaran pakan serta kejatuhan nilai jual telur. Ia menyarankan pembentukan lembaga khusus yang menangani pakan ternak agar tata kelola pasokan material mentah, pemrosesan, hingga alur distribusi terkoordinasi secara baik dan harga tetap ramah peternak.
Di sela pertemuan tersebut, Titiek pun menaruh perhatian serius terhadap mekanisme penyerapan telur hasil budidaya. Pihaknya mendorong aparatur negara memaksimalkan integrasi program resmi supaya pasokan telur lokal terserap maksimal tanpa terbuang sia-sia.
“Kami sudah menerima aduan, supaya telur-telur yang diproduksi yang ada ini supaya bisa diserap program-program pemerintah, supaya tidak mubazir. Diberi Gusti Allah, kita dikasih telur, telurnya dibuang-buang, kan enggak boleh,” tutur politisi tersebut.
Maka dari itu, Titiek mendesak pengambil kebijakan bertindak taktis menyerap telur produksi peternak mandiri seraya membereskan hambatan distribusi jagung pakan yang memicu lonjakan operasional. “Ini bagaimana caranya pemerintah harus menyerap telur-telur yang jenengan sudah produksi,” ucap figur asal Fraksi Partai Gerindra itu.
Titiek lalu mengimbau para demonstran untuk berangsur kembali ke kediaman masing-masing karena dirinya berniat mengawal langsung masalah ini ke level eksekutif. “Jadi sekarang sudah jam segini, jenengan kondur saja, pulang. Kami habis ini akan menunggu pemerintah yang terkait dengan Pak Menteri. Saya akan telepon. Bulog akan saya telepon. Insya Allah Pak Presiden akan saya temui. Insya Allah Pak Presiden akan membantu para peternak-peternak,” jelas Titiek.
Titiek menegaskan Komisi IV DPR RI senantiasa memantau persoalan komoditas jagung, pakan, serta daya serap pasar agar realisasi swasembada tidak sebatas retorika angka nasional, namun benar-benar menghadirkan proteksi usaha peternak.







