Pertagas Siapkan Strategi Peningkatan Pasokan Gas demi Topang Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei

Posted on

PT Pertamina Gas atau Pertagas menyatakan kesiapannya untuk mendongkrak kapasitas pengaliran gas bumi demi mendorong perluasan aktivitas usaha di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatra Utara.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Gilang Fathurahim selaku Section Head Operation Stasiun Metering Gas (SM) KEK Sei Mangkei Pertagas. Dirinya mengungkapkan bahwa proyeksi tersebut merupakan bagian dari peta jalan strategi jangka panjang perseroan dalam menjawab lonjakan permintaan energi di kawasan industri tersebut.

"Peningkatan kapasitas penyaluran gas masuk ke dalam rencana jangka panjang perusahaan. Nanti kami akan melihat secara keekonomian dan secara teknis juga terkait penambahan-penambahan itu," paparnya kepada awak media, Rabu (23/9).

Lebih lanjut, Gilang menguraikan rencana eskalasi volume distribusi gas tersebut memiliki korelasi erat dengan penemuan cadangan gas baru di Blok Andaman, Provinsi Aceh, sekaligus percepatan koridor wilayah ekonomi terintegrasi Dumai-Sei Mangkei (Dusem).

"Secara teknis ini masih bisa diusahakan untuk menaikkan kapasitas pipa dengan berbagai macam rekayasa, misalnya dengan peningkatan kapasitas kompresor kami, peningkatan kapasitas pipa, dan lainnya," terang Gilang mengenai solusi operasional yang disiapkan.

Kendati demikian, manajemen Pertagas kini masih menanti kepastian terkait dinamika pertumbuhan jumlah pelaku industri serta kalkulasi riil kebutuhan gas di KEK Sei Mangkei sebelum langkah peningkatan fasilitas transmisi benar-benar dieksekusi.

Menurutnya, kejelasan data konsumsi tersebut sangat esensial guna mengukur kelayakan finansial investasi infrastruktur penyaluran energi serta menentukan metode rekayasa teknis yang paling efisien diterapkan di lapangan.

Di samping rencana ekspansi masa depan, Gilang memaparkan realisasi distribusi gas Pertagas saat ini di wilayah Sumatera Utara berada pada rata-rata 170 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Dari total pasokan tersebut, porsi terbesar yakni 61 persen atau sekitar 105 MMSCFD dialokasikan penuh guna menyuplai pembangkit listrik milik PLN Belawan.

"Secara rata-rata tahunan, kita mengalirkan gas sebesar 170 MMSCFD setiap hari di mana proporsionalnya adalah mayoritas untuk PLN Belawan. Jadi listrik di Sumatera Utara, ini mayoritas sumbernya dari PLN Belawan yang kita salurkan gasnya sebagai bahan bakar sekitar 105 MMSCFD atau sekitar 61 persen dari yang kita salurkan," rincinya.

Bukan hanya sektor ketenagalistrikan, Pertagas juga konsisten menyalurkan pasokan gas untuk sektor manufaktur industri umum serta produsen pupuk yang tren permintaannya senantiasa menanjak semenjak jaringan pipa perdana beroperasi pada tahun 2014 silam.

"Sumber gas kami itu berasal dari regasifikasi. Jadi LNG Hub Internasional. Jadi LNG-LNG datang ke Lhokseumawe untuk mentransfer LNG Internasional ke tangki-tangki penyimpanan di PAG dan diregasifikasi masuk ke pipa milik Pertagas," papar Gilang menerangkan rantai pasok energi.

Melihat potensi kawasan, ia memprediksi KEK Sei Mangkei ke depannya bakal terus mengalami akselerasi ekonomi yang ditandai dengan bertambahnya pabrik-pabrik baru.

Kondisi ini terjadi lantaran Sei Mangkei dinilai sangat prospektif menjadi episentrum perluasan bisnis korporasi manufaktur, terlebih ketersediaan lahan operasional di kawasan metropolitan Medan kini semakin sempit dan padat.

"Nantinya juga akan jadi pabrik-pabrik semua seperti kalau di Medan ada daerah KIM [Kawasan Industri Medan] yang sudah penuh pabrik-pabriknya, sepertinya sudah nggak ada tempat ekspansinya ke sini sekarang industri-industri baru," ucapnya mengakhiri perbincangan.

Secara historis, status KEK Sei Mangkei disahkan melalui penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2012 pada 27 Februari 2012. Area ini memegang predikat sebagai KEK perdana di Tanah Air yang diresmikan secara langsung oleh Presiden ke-7 Joko Widodo pada 27 Januari 2015.

Operasional KEK Sei Mangkei mengedepankan rantai industri hilirisasi kelapa sawit, manufaktur karet, pariwisata, hingga sektor logistik. Kawasan ini sengaja dirancang menjadi simpul utama industri turunan sawit dan karet bermutu global dalam skala masif.

Membentang di atas lahan seluas 2.002,7 hektare, KEK Sei Mangkei sangat adaptif bagi bermacam-macam sektor industri penunjang lain berkat lokasinya yang strategis di pusat sentra agribisnis serta kemudahan jaringan infrastruktur modern.

Hingga horizon tahun 2031, kawasan strategis terpadu ini diestimasikan mampu menghimpun komitmen modal hingga mencapai Rp129 triliun dengan proyeksi serapan tenaga kerja menyentuh 83.304 orang.

Berdasarkan catatan statistik Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus per Maret 2026, realisasi investasi kumulatif di KEK Sei Mangkei telah menembus angka Rp31,8 triliun dan sukses membuka 14.689 lapangan kerja baru.