Perkuat Pasokan Bahan Baku Pupuk, Wamentan Dorong Akselerasi Investasi Fosfat di Aljazair

Posted on
banner 336x280

Negara Aljazair mematok sasaran volume produksi fosfat dapat menyentuh angka 10 juta ton setiap tahunnya.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa terus mendorong langkah percepatan realisasi kemitraan penanaman modal fosfat antara pihak PT Pupuk Indonesia bersama korporasi fosfat asal Aljazair, Somiphos. Kolaborasi ini bertujuan memperkokoh ketersediaan suplai bahan baku pupuk di dalam negeri. Salah satu fase penting yang tengah diikhtiarkan adalah perumusan kesepakatan studi bersama atau joint study agreement, sebagai pijakan menuju tahapan analisis investasi yang jauh lebih konkret.

Suntikan dorongan strategis tersebut diutarakan langsung oleh Wamentan Saleh kala menggelar pertemuan tatap muka bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Aljazair, Yusron Bahauddin Ambary, di Jakarta, pada hari Kamis (15/10/2026). Diskusi двуpihak tersebut berfokus meninjau dinamika penjajakan modal serta menetapkan langkah yang diperlukan guna mempererat sinergi bilateral antara Indonesia dan Aljazair pada sektor industri komoditas fosfat.

Wamentan Saleh menguraikan bahwa alur penjajakan telah bergulir secara intensif dan pembahasan komprehensif terkait beragam dimensi investasi terus dimatangkan. Pihak otoritas mengharapkan jalur dialog yang sudah terbangun kokoh dapat segera ditindaklanjuti menuju jenjang kemitraan yang lebih berorientasi hasil terukur. “Harapannya, kita bisa sampai pada joint study agreement,” cetus Saleh.

Berdasarkan penuturan Saleh, kehadiran kajian studi bersama sangat esensial guna mempertegas batasan ruang lingkup kemitraan sekaligus memetakan setiap potensi investasi yang dapat digarap oleh kedua belah kubu. Kendati demikian, agenda besar ini masih menuntut koordinasi lanjutan yang matang dan posisinya belum menginjak tahapan pekerjaan konstruksi fisik ataupun peletakan batu pertama alias groundbreaking.

Di tempat yang sama, Duta Besar RI untuk Aljazair Yusron Bahauddin Ambary memaparkan bahwa Pemerintahan Aljazair menyambut hangat kehadiran pemodal Indonesia, baik kalangan korporasi milik negara (BUMN) maupun entitas swasta murni, khususnya untuk menanamkan modal pada sektor fosfat. Pihak penguasa Aljazair turut menyampaikan komitmen nyata dalam memprioritaskan setiap investor yang berasal dari Nusantara.

Menurut pemaparan Yusron, ajakan berinvestasi tersebut bahkan diutarakan secara langsung oleh Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune sewaktu dirinya menyerahkan surat kepercayaan diplomatik sebagai Duta Besar RI. Peluang bernilai tinggi ini dinilai sangat strategis bagi kepentingan nasional guna memperkokoh akses rantai pasok material utama bagi industri pupuk di tanah air.

“Pemerintah Aljazair mengundang pengusaha Indonesia, baik BUMN maupun swasta, untuk berinvestasi, terutama di sektor fosfat. Mereka juga menyampaikan bahwa investor Indonesia akan mendapatkan prioritas,” jelas Yusron secara rinci.

Yusron mengimbuhkan keterangan bahwa Aljazair menargetkan kapasitas produksi komoditas fosfat mampu menembus total 10 juta ton per tahunnya. Patokan target ambisius tersebut membuka pintu lebar bagi pihak Indonesia guna mengeksplorasi kerja sama teknis penambangan serta hilirisasi pengolahan fosfat, sembari memperkokoh jalinan kemitraan industri antar kedua negara sahabat.

Pondasi awal kerja sama bilateral ini sejatinya telah diikat melalui momentum penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT Pupuk Indonesia dan entitas Somiphos tepat pada 20 Januari 2026. Dokumen kesepahaman tersebut memuat ruang lingkup penjajakan penyediaan bahan mentah fosfat, peluang kerja sama eksplorasi tambang dan pengolahan, hingga agenda pengembangan industri pupuk berbahan fosfat.

Pertemuan formal Wamentan Saleh bersama Dubes RI untuk Aljazair menjadi bagian integral guna mempercepat realisasi kesepakatan MoU itu. Otoritas pemerintah berharap proses eksplorasi yang telah dirintis sanggup berevolusi menjadi proyek kerja sama yang lebih konkret sesuai hasil studi dan konsensus bersama.

Penguatan aksesibilitas bahan baku fosfat merupakan kebijakan berbobot strategis demi menjaga ketahanan jangka panjang sektor pupuk nasional. Diversifikasi rantai suplai diharapkan sanggup mengamankan rantai pasok hulu serentak menggaransi pemenuhan pupuk bagi para petani di lapangan.

Wamentan Saleh menaruh harapan besar agar sinergi kelembagaan pemerintah dan pelaku usaha nasional bersama mitra di Aljazair semakin solid agar peluang ini dapat terealisasi berkesinambungan. Semua usaha ini ditujukan mengokohkan industri pupuk dan memantapkan kedaulatan pangan nasional.