Mayoritas fasilitas IPAM di wilayah Batam kini mulai berfungsi normal lagi setelah pemadaman listrik PLN tuntas ditangani.
Badan Pengusahaan (BP) Batam, Kepulauan Riau (Kepri), menyatakan proses penormalan suplai air bersih setelah kendala kelistrikan memerlukan durasi berkisar enam hingga sembilan jam terhitung sejak unit pengolahan air aktif kembali. Upaya normalisasi jaringan tersebut diterapkan secara bertingkat agar pengiriman air bersih ke kediaman warga kembali stabil.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam Ariastuty Sirait menuturkan, sebagian besar dari total delapan Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) yang sempat terimbas kini telah hidup lagi. Walau begitu, pemerataan distribusi air ke konsumen masih berlangsung perlahan di lapangan.
“Belum sepenuhnya pulih karena normalisasi air berbeda dengan listrik. Membutuhkan waktu 6 sampai 9 jam untuk mengalir ke masyarakat. Namun, saya terinformasi ada daerah yang sudah mengalir, ada yang belum. Sedang didata,” ucap Ariastuty ketika dikonfirmasi di Batam, Selasa (13/10/2026).
Dirinya menerangkan, walau daya listrik PLN telah kembali menyokong kerja sarana pengolahan, hambatan pasokan masih berpotensi dialami sejumlah titik. Instansinya memastikan bakal terus membangun komunikasi aktif bersama pihak PLN demi mendapatkan laporan perkembangan mutakhir.
Merujuk laporan Air Batam Hilir (ABH), pemadaman listrik PLN pada Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Duriangkang 5 pada Selasa (13/10/2026) sekira jam 09.30 WIB sampai melewati jam 11.00 WIB membikin debit air mengecil maupun padam total di beberapa pemukiman. Kawasan yang terkena dampak antara lain KDA, Legenda, Buana Vista, Bukit Raya, Bida 3, GNC, Batu Besar, Sambau, Teluk Mata Ikan, dan area sekelilingnya.








